m e l e p a s k a n

by - March 14, 2019


Berapa banyak dari kita yang pernah mengalami kecewa, sakit hati atau marah pada keadaan? I guess everyone :') Ya, kita memang tidak selalu stabil. We are human with emotions and feelings. Ada kalanya kita tidak siap ketika dihadapkan pada hal-hal yang tidak kita duga, hal-hal yang tidak kita mengerti, hal-hal yang kita hindari, bahkan hal-hal yang awalnya sudah kita antisipasi sekalipun terkadang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan. Dan itu semua membuat emosi kita berantakan.

Nyatanya, bukan hanya peristiwanya yang mengejutkan. Tidak jarang, reaksi kita pun melebihi yang kita bayangkan. Kita seolah tak benar-benar mengenal dan mengerti diri kita sendiri. Kita tidak menduga bahwa reaksi kita bisa sedemikian hebatnya. Seolah kita dan hati kita adalah dua individu yang berbeda, yang ragu apakah saling mengenal tapi sangat ingin saling melindungi. Kita pasti pernah dengan sangat sadar meminta diri -hati-  kita untuk berhenti bersedih, berhenti menangis, berhenti kecewa, meminta bangkit lagi, semangat lagi agar kita kembali berfungsi -tapi gagal. Seolah otak kita sungguh sangat waras tapi hati kita gila. Seolah otak kita tahu mana yang nyata, tapi hati kita masih buta dengan yang maya. Seolah otak kita tahu bahwa kita harus segera pindah, tapi hati kita masih ingin tinggal.

Iya, menasihati diri sendiri adalah hal yang tidak pernah mudah. Karena otak dan hati kita adalah dua hal yang satu tapi dua. Satu tubuh, dua kesadaran.

Sebenarnya, hal-hal yang membuat kita kecewa adalah karena realita yang ada tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan kita bayangkan. Unik memang, angan-angan manusia terkadang bisa melaju berjam-jam bahkan berbulan-bulan, bertahun-tahun lebih cepat ke masa mendatang. Padahal badannya masih di sini, tak kemana-mana. Dan setelah realita membuyarkan angan-angan kita, barulah kita sadar bahwa kita terlalu jauh membayangkan hingga tidak benar-benar hidup di saat ini. Kemudian kita seperti terbangun tiba-tiba dari mimpi indah, tidak siap hingga berujung pada reaksi-reaksi di luar antisipasi.


Sebenarnya, melelahkan bukan? Tentu saja.

Sangat melelahkan menahan yang sudah tidak ingin tinggal, melelahkan mengharap kembali yang sudah jelas-jelas pergi, melelahkan karena kita hanya hidup dalam angan-angan yang kita ciptakan.

Maka, terimalah.

Terima saja apa yang terjadi. Jangan kau lawan meski kau benci. Terimalah. Karena sekuat apapun kau melawannya, tak ada yang akan berubah. Penolakan yang ada di dalam dirimu justru akan membuatmu semakin lelah. Semakin kuat kau tolak, semakin sulit kau sembuh. Terima saja. Tuhan tak mungkin salah menulis cerita. DIA yang menciptakanmu, pasti DIA juga yang paling tahu dirimu-hatimu. DIA yang menjamin kehidupanmu, mengatur segala urusanmu, mencukupimu. Jadi, tak perlu kau ragu. Terima saja dan percayakan pada-Nya, karena DIA tak akan pernah membuatmu kecewa.

Sadarlah sesadar-sadarnya untuk menerima episode ini dalam hidupmu. Ya, ini hanya satu bagian dari hidumu. Bukan akhir ceritamu. Lepaskan ia yang bukan untukmu, lepaskan ia yang belum menjadi takdirmu, lepaskan ia yang mungkin masih perlu Tuhan sempurnakan untuk kelak bersamamu. Dan di atas itu semua, lepaskan angan-anganmu. Lepaskanlah. Karena dengan itu, kau justru akan baik-baik saja. Maka kau akan menemukan dirimu kembali dan melihat cahaya lagi. Kau akan Tuhan mudahkan untuk sembuh dan bangkit lagi. Karena kau yakin, ini terjadi bukan karenamu atau siapapun. Ini karena memang Tuhan inginkan begini. Karena memang harus begini.

Tidak, kau tidak kalah. Kau tidak menyerah. Kau hanya menerima dan melepaskan. Kau hanya berdamai demi kebaikan-kebaikan yang lebih besar yang akan datang menggantikan. Kau adalah hamba yang menerima karena meyakini-Nya.

Ya, memang ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa kita kendalikan dan hanya bisa kita pasrahkan. Dan ketika kau lepaskan, maka Tuhan yang akan menyelesaikan :')



Mita Royya

You May Also Like

0 comments