Belajar dari KonMari: Review Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

by - May 31, 2017


Hallo semuanya.. Jumpa lagi di blog saya. Btw, selamat menunaikan ibadah puasa ya :)
Ternyata sudah lama banget saya nggak nulis. Padahal sebenarnya sudah banyak banget ide berseliweran. Tapi buat eksekusi rasanya beraaaattt bangeett karena memang rutinitas sebagai pengajar yang cukup padat akhir-akhir ini. Tapi nggak apa-apalah ya, mengajar demi mencerdaskan bangsa. Tsaaahhh! :D

Nah, karena sebenarnya saya agak nyolong-nyolong waktu buat nulis postingan kali ini, jadi saya pilih topik yang nggak perlu waktu lama untuk brainstorming. Wait! Apa? Nulis blog begini aja butuh brainstorming? ------- Oh, come on! Update status aja butuh waktu sekitar 5-15 menit untuk fiksasi men. Itu cuma update status ya yang paling banyak cuma 10 kalimat. Lha ini nulis blog berparagraf-paragraf, pemilihan dan pengemasan tema harus pas, harus ada unity and coherence antar paragrafnya (aseekk :p), fotonya harus pas dan lain-lain. :D Ya, intinya saya termasuk orang yang pengennya setiap content yang saya upload di sosial media ada makna dan manfaatnya. Aseeekk :p Agak ribet memang, tapi saya menikmatinya kok. OK, OK, stop ya prolognya yang nggak nyambung ini. Mari kita mulai. :)

Well, ini pertama kalinya saya bikin review buku secara "resmi" dalam bentuk tulisan yang panjang lebar. Biasanya saya cuma nulis di IG saja sekilas tentang buku yang saya baca. Tapi kali ini saya pengen mulai mendokumentasikan apa yang saya baca yang mungkin bisa lebih bermanfaat juga untuk sesama. Ceilah! :D OK, kenapa saya mulai dengan buku ini? Karena buku ini UNIK! Ini adalah buku pertama yang saya baca tentang cara merapikan rumah, bahkan di judulnya ditulis seni beres-beres. Hmmm, penggunaan kata seni cukup menggelitik saya sehingga saya semakin penasaran dengan buku ini. Well, before going further, saya pertama kali kenal buku ini dari senior saya, Mbak Intan. Setelah saya cek-cek di internet untuk meyakinkan diri, ternyata buku ini memang sudah dibaca dan dipraktekkan oleh banyak orang. Ya iyalah, doi #1 New York Times best seller gitu. Tentang penulisnya, saya agak kaget ketika melihatnya di Youtube. Ekspektasi awal saya, penulisnya pasti sudah ibu-ibu umur 50 tahunan yang pasti sudah sangat khatam dengan urusan beres-beres rumah. Tapi ternyata salah. Penulisnya adalah seorang perempuan Jepang yang masih muda, manis dan imut-imut. :D Namanya Marie Kondo. Dan metode beres-beres "KonMari" yang dia ciptakan ini diambil dari singkatan namanya. Dari Youtube saya juga tahu bahwa Kondo juga sudah pernah jadi bintang tamu di Ellen Show! Jadi, semakin mantap tekad saya untuk beli buku ini. :D Akhirnya setelah melalui perjalanan yang berliku ke 2 toko buku besar di Jogja yang hasilnya NIHIL alias SOLD OUT, saya putuskan untuk online saja. Dan sekitar pertengahan Mei kemarin, buku tersebut mendarat dengan selamat di rumah saya. :)

OK, kita mulai dari fisik bukunya. Lagi-lagi saya dibuat kaget oleh buku ini karena dalam pikiran saya kalau buku tentang beres-beres rumah ya pasti desain sampulnya tegas dengan warna tegas pula. Mungkin sampulnya gambar rumah atau bangunan atau perabotan. Mungkin juga pakai gambar rumah dengan perabotan berserakan. Dan kalau benar seperti itu sampulnya, saya yakin nggak ada yang beli karena sudah lelah duluan sama sampulnya. :D Dan ternyata, seperti yang bisa dilihat di gambar pembuka tulisan saya, sampul buku ini bergambar awan putih dengan langit berwarna pastel biru kehijauan. Meeenn, mana ada hubungannya antara beres-beres rumah dan awan-awan imut itu? Ternyata saya salah, ada soft purpose (istilah macam apa ini :p) dari buku ini yaitu the life-changing magic. Jadi, pantas saja kalau sampulnya adalah awan-awan imut dan lembut. Selembut perubahan hidup karena beres-beres rumah. Konyol ya? It's too early to judge! ;) Dan fyi, buku ini masuk ke dalam kategori Self Improvement. Jadi semakin jelas bahwa ini bukan hanya sekedar buku tentang beres-beres rumah.

Dengan harga Rp 54.000,- untuk buku terjemahan, saya rasa cukup terjangkau. Ukuran buku ini termasuk standar buku pada umumnya dengan jenis kertas book paper sehingga cukup handy dan ringan kalau dibawa-bawa. Selain itu, buku ini memiliki ketebalan yang sedang yaitu 20,5 cm dengan total 206 halaman. Jadi tidak terlalu makan tempat kalau dimasukkan tas. Oh iya, di dalam buku ini juga sudah ada bookmarknya. Jadi, bisa gampang ngasih tanda di setiap bagian yang selesai kita baca. Kalau dari segi fisik sih saya rasa nggak ada masalah ya. All is well. :)

Next, sekarang kita bahas isi bukunya. Saya baru saja menamatkan membaca buku ini di akhir Mei ini. Itu juga nyolong-nyolong waktu di sela-sela jeda jadwal ngajar. Meski begitu, tetap tidak mengurangi esensi dari buku ini kok. Tapi, saran saya ketika kalian pertama kali mau baca buku ini, pastikan kalian sedang berada di rumah dan selo. Kenapa? Karena setelah mulai membaca buku ini, pikiran saya langsung terbayang-bayang isi lemari baju, rak buku, rak piring dan seluruh isi rumah. Rasanya gatel bangeeett pengen segera menuntaskan baca buku ini biar ilmu beres-beresnya komplit dan bisa segera eksekusi. Hihii.. :D Memang isi bukunya tentang apa? Well, buku ini secara umum berisi tentang metode merapikan ala Jepang. Di dalam buku ini, pembaca akan dipandu step by step untuk membereskan isi rumahnya sehingga beres-beres tidak perlu dilakukan sering-sering. Dan ini yang sangat menarik hati saya karena saya kumat-kumatan rajinnya (baca:malas). :p Di bagian awal, pembaca akan diajak untuk mengenali permasalahan secara umum tentang beres-beres rumah.

Bab 1 KonMari
Di bagian awal, saya masih manggut-manggut setuju dengan gagasan KonMari ini. Dan saya juga bisa mengetahui Do(es) and Don't(s) dalam berbenah. Hingga sampailah saya di saat yang berbahagia bagian ke-dua yang cukup membuat saya kaget dan mempertanyakan kevalidan buku ini. :p
Bab 2 KonMari
Apa? Membuang?? Eits, jangan langsung ditutup bukunya, apalagi dibakar. Don't! Tarik nafas dalam-dalam, hembuskan. Ulangi 3 kali dan ucapkan Bismillah kemudian lanjutkan baca. :D Di bagian kedua memang saya akui agak challenging bagi saya yang sangat mencintai menimbun barang. Ups! Tapi setelah saya lanjutkan membaca, buku ini memang benar. Simpanlah hanya barang-barang yang membangkitkan kebahagiaan dan buang yang tidak. Membuang di sini bukan selalu dibuang ke tempat sampah kok, tapi bisa juga disumbangkan atau dijual. Setelah menghayati semboyan dari KonMari tersebut, saya mulai bisa membayangkan barang-barang mana saja yang ingin saya simpan dan tidak. Pasti sebagian dari kalian sekarang mulai merasa kasihan sama barang-barang yang tidak ingin lagi kalian simpan padahal kondisinya masih bagus. Saya juga awalnya begitu, apalagi saya termasuk orang yang cukup sentimentil dengan barang-barang pribadi saya, terutama barang-barang bersejarah atau yang memiliki kenangan. Tapi jangan khawatir, itu sebenarnya tentang sudut pandang saja. Dan kalian bisa mengubah sudut pandang itu melalui buku ini. (macam seminar motivasi) :p

Bab 3 KonMari
Di bagian ke-tiga dan ke-empat, pembaca diajarkan cara menata semua barang-barang. Mulai dari melipat pakaian, menata buku, perabotan, assesoris, uang receh bahkan struk belanjaan agar tidak kembali berantakan. Sepertinya sepele ya? Iya, sepertinya. :D Di bagian ini pembaca juga diajarkan bagaimana memilah dan menata barang berdasarkan kategori bukan berdasarkan ruangan. Ada banyak hal unik yang bisa ditemukan dalam buku ini. Salah satunya adalah cara kita berterimakasih pada setiap barang yang kita miliki. :D Mungkin kedengarannya konyol, tapi di akhir buku ini, Kondo bisa membuat semua hal yang awalnya konyol menjadi masuk akal.

Bab 4 KonMari
Kalau kalian merasa buku ini membosankan, kalian salah besar. Membaca buku ini seperti memasuki rumah-rumah orang lain, yakni klien-klien Marie Kondo. Dia banyak menggambarkan betapa beragam kondisi rumah-rumah kliennya sebelum mengikuti kursus KonMari. (KonMari sudah lama menjadi kursus berbenah rumah di Jepang). Ada yang sangat berantakan. Ada yang punya berpuluh-puluh stok kaos kaki, sikat gigi, bahkan cutton buds. :D Selain menggambarkan rumah-rumah kliennya, Kondo juga menggambarkan mimik wajah, ekspresi bahkan kalimat-kalimat yang diucapkan kliennya. Dari situ, saya merasa bahwa ternyata ada banyak orang yang memiliki masalah yang sama dengan saya dalam hal beres-beres rumah. Namun hal yang paling saya suka adalah cara berpikir Kondo yang unik. Di satu sisi Kondo sangat sangat lucu bahkan konyol khas orang Jepang yang benar-benar bikin ngakak. Beberapa leluconnya pernah saya upload di IG Story saya dan membuat beberapa teman bertanya-tanya tentang buku yang sedang saya baca. :D Tapi di sisi lain, saya melihat bahwa Kondo sangat detail dan menghargai setiap hal. Karenanya, ia benar-benar memikirkan hubungan barang-barang yang dimiliki seseorang dengan kebahagiaan pemiliknya.

Bagian akhir alias bagian ke-lima buku ini adalah favorit saya. <3

Bab 5 KonMari
Saya akhirnya paham kenapa beres-beres adalah seni. Dan kenapa dengan beres-beres dapat mengubah hidup kita, sama persis dengan judul buku ini. Setelah membaca buku ini, sudut pandang saya tentang hubungan antara kepemilikan jumlah barang dengan kebahagiaan berubah. Meskipun saya sudah lama tahu tentang quote collect memories not things tapi saya belum benar-benar bisa menahan diri. Dulu, saya melihat bahwa jika saya bisa memiliki barang-barang yang saya inginkan saya akan bahagia. Jadi, kebahagiaan saya tergantung dari apakah saya berhasil memiliki barang tersebut atau tidak. Berhenti sampai di situ. Tapi saya tidak peduli, apakah di kemudian hari saya masih bahagia dengan barang tersebut atau tidak. Dan bahkan saya tidak pernah ingin tahu. Dari situlah konsumerisme terjadi. Berlebih-lebihan, yang oleh Dee Lestari dalam pembuka buku KonMari menyebutnya sebagai obesistuff. Dan jauh sebelum ini terjadi, Islam sudah menganjurkan kita agar tidak hidup berlebih-lebihan. Kalau orang Jawa bilang sakmadya. Menarik sekal! :)

Sekarang saya sudah bisa lebih hati-hati setiap ingin membeli suatu barang. Saya benar-benar bertanya pada diri sendiri apakah barang ini nantinya benar-benar akan membuat saya bahagia dalam waktu yang lama atau tidak. Atau hanya ego sesaat. Saya juga belajar lebih bersyukur karena  yang saya miliki ternyata lebih banyak dari yang sebenarnya saya butuhkan untuk bahagia. Meskipun saya belum melakukan decluttering sepenuhnya, (karena memang baru selesai baca bukunya :p) tapi saya sudah mulai mengubah pola pikir dan lebih bisa menahan nafsu untuk membeli dan menimbun. Karena KonMari juga mengajarkan tentang membuang, ini juga mengajarkan saya tentang merelakan pergi hal-hal yang tidak membuat kita bahagia. Yang meskipun awalnya seolah memberi kenyamanan. Ups! Jika dirangkaikan antara menyimpan dan membuang, saya belajar tentang kebijaksanaan dalam membuat keputusan. Tidak hanya keputusan di akhir, tapi lebih penting lagi keputusan di awal apakah kita akan memboyong barang tersebut masuk ke dalam kehidupan kita atau tidak.

Di atas itu semua, saya belajar dari buku ini bahwa berbenah rumah secara tidak langsung membuat kita juga membenahi diri sendiri. Saya bisa lebih mengenali diri saya sendiri. Apa yang benar-benar saya sukai, apa yang benar-benar saya inginkan dalam hidup saya, bagaimana sebenarnya saya ingin menjalani hidup ini, apa yang membuat saya bahagia dan banyak lagi. Dan ketika rumah kita hanya berisi hal-hal yang membahagiakan, saya yakin tidak ada pilihan lain bagi penghuninya selain untuk bahagia. :)

Lastly, saya kasih nilai 4,8/5 untuk buku ini. Dan terimakasih untuk Mbak Intan yang sudah mengenalkan buku ini. Semoga selalu diliputi kebahagiaan. :*

Terimakasih ya sudah mampir. Semoga reviewnya bermanfaat. Sampai ketemu lagi di postingan-postingan berikutnya. :D



Mita Royya
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Semua foto adalah koleksi pribadi Mita Royya

You May Also Like

6 comments

  1. Waaah daebak! Review buku yang sangat lengkap dan komprehensif! Jadi pengen bikin kategori di blog khusus review buku dengan model seperti ini.
    Iyaa buku ini benar2 merubah cara pandang kita tentang kepemilikan barang-barang. Sudah hampir setahun sejak membaca buku ini alhamdulillah nafsu borong-borong dan membeli barang karena 'pengen', 'ih lucu', atau untuk koleksi sekarang sudah sirna. Belanja hanya untuk kebutuhan pokok saja, terima kasih tak terhingga saya sampaikan kepada Marie Kondo.

    Hidup sederhana dan bersahaja ternyata kunci kebahagiaan yang sesungguhnya ya.

    Tabik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahh.. Mbak intaaan, makasiiih selalu baca & komen.. Hahaha.. 😄😘 Iya mbak, bukunya powerful bangeett.. Dan meskipun q belom decluttering lg, tapi nafsu belanja q berkurang banyaaakk dg sendirinya.. Kayaknya ngrasa cukup gt dg barang2 di rumah.. Alhamdulillah.. 😇

      Iya mbak, q jg pengen bikin kategori khusus buat review buku.. Biar nyebarin semangat membaca buku jg.. Heheee.. Tapi ini skrg baca buku blm kelar2.. Hahaha..

      Makasiiih mbak intan sudah mengenalkan buku ini.. 😘😘😘

      Delete
  2. Sudah sering baca review ttg buku ini, tapi blm pernah baca langsung sih hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihii.. Sangat rekomended mbak kalau menurut sya.. Karena setelah baca buku itu, kebiasaan belanja krn laper mata jd ga muncul2 lagi.. Hehee 😁

      Delete
  3. Bagus mba riview nya. Suka dengan gaya nulis blog nya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, terimakasih sekali mbak atas apresiasinya (lagi) 😊🙏 Alhamdulillah.. Semoga bermanfaat ya mbak.. 😇

      Delete