A Quarter Life Crisis: Tentang Usia 25 Tahun

by - March 04, 2017


Hallo.. jumpa lagi di blog saya. Sudah cukup lama ternyata saya nggak nulis. Sebenarnya ada beberapa tulisan yang sudah siap sejak akhir tahun lalu (termasuk tulisan ini). Tapi rasanya masih belum sreg untuk dipublished. Hehee..
Eh iya, sebelumnya saya mau ngucapin makasiiih bangeeettt untuk pembaca-pembaca blog saya. Dan saya cukup surprised karena beberapa hari yang lalu waktu ngecek blog, eh saya nemu beberapa komen dari pembaca-pembaca yang sama sekali nggak saya kenal. Rasanya senang sekali ternyata tulisan saya relate ke banyak orang. :)) Saya tunggu komen-komennya lagi ya. :D

Nah, kali ini saya mau ngomongin tentang usia seperempat abad, alias usia 25 tahun. Hmmm, pasti beberapa diantara kalian langsung kepikiran tentang usia matang, dewasa, nikah, kerjaan mapan, punya anak, punya rumah dan tentang possessions yang lainnya. Iya, memang usia 25 sangat identik dengan usia mapan dimana banyak orang menjadikan usia 25 ini sebagai usia patokan untuk mencapai titik tertentu. Dan ini nggak cuma di Indonesia. Di luar negeri pun (menurut beberapa literatur yang saya baca) usia ini merupakan awal kemapanan seorang individu. Eh, tapi gimana kalau ternyata di usia 25 ini sebagian dari kalian justru merasa sebaliknya? >,<

Fyi, sekarang saya sedang berada di usia 25, ya meskipun Juli nanti akan menjadi 26 sih. :D Dan saya juga termasuk orang yang ketika di awal 20an membuat berbagai macam target yang harus saya capai di usia 25. Kalau kalian sering ikut seminar motivasi atau sering nonton acara-acara motivasi di TV, pasti kalian ngak asing dengan kalimat "tuliskan target Anda 5 tahun ke depan, 10 tahun ke depan" dan seterusnya. Nah, sejak awal 20an saya termasuk "korban" dari yang begitu itu. Hahaa.. Tapi, saya nggak sendiri. Inner circle saya alias sahabat-sahabat saya ternyata juga pernah menjadikan usia 25 sebagai patokan pencapaian diri mereka. Patokan nikah lah, karir cemerlang lah, punya rumah dan mobil pribadi lah, lulus master lah, keliling dunia lah, dan masih banyak lagi. Dan ketika sekarang saya tanya lagi mereka tentang kenyataan dari target-target tersebut, kami kompak tertawa ngakak! :D Well, anggap saja kami saya termasuk salah satu dari sekian manusia berusia 20an yang gagal mengaplikasikan salah satu materi dari seminar motivasi. Hahaa..

Jadi, realita usia 25 tahun itu seperti apa? Well, sebelum ngobrol lebih jauh, saya mau ngasih disclaimer dulu. Saya tidak mengatakan bahwa semua orang gagal mencapai targetnya di usia 25. Di luar sana, saya yakin ada banyak orang yang juga berhasil mewujudkan targetnya tepat di usia 25. Tapi, saya juga tidak pernah menganggap bahwa hidup saya (dan sebagian orang yang lain) gagal hanya karena ada beberapa target yang belum dicapai tepat di usia 25. Clear ya?! OK, mari kita mulai.

Sekitar awal usia 25, saya pernah update status di FB yang pada akhirnya saya hapus. :p Saya bilang "Kok saya ngrasa kemampuan saya serba nanggung ya?". Ada berbagai komentar dari teman-teman saya yang kebanyakan mengingatkan betapa banyak nikmat yang saya terima dibanding yang lain. Namun ada juga yang merasa seperti saya. Tapi, dari sekian komentar, ada satu komentar yang menelisik relung hati saya. :p Ada salah satu teman yang komen, "Lagi ngrasa A Quarter Life Crisis nih?". Ngok! Saya tertegun sesaat. :p Waktu baca komen ini, posisi saya sebenarnya sedang di pasar malem sama suami. Tapi buru-buru saya googling tentang A Quarter Life Crisis. Dan fix, saya sebagai salah satu yang mengalaminya. Hahaha.. Anw, kalian boleh cek di sini tentang tanda-tandanya.

Shortly, a quarter life crisis itu kondisi dimana kita merasa bingung atau dilema terhadap berbagai hal dalam hidup kita yang biasanya terjadi di usia 24, 25, 26, 27 bahkan sampai pertengahan 30an. Entah dilema tentang studi, karir, relationship, keluarga, hubungan sosial, bahkan tentang memahami diri sendiri. Tapi tenang aja, ini kondisi yang wajar dan normal kok. Selama kita masih pegang kendali kita, dengan iman tentunya, insyaAllah all is well. :) Di tulisan ini saya nggak akan jadi psikolog yang ngasih tau gimana cara survive dari a quarter life crisis ini. Kalau kalian sedang mengalami krisis tentang hal-hal yang saya sebutin tadi dan butuh rescue :p, bisa cek di sini.

Whoop!
Btw, saya juga pernah mengalami krisis seperempat abad ini (bahkan kadang masih kambuh2an :p). Basically, menurut saya kenapa terjadi A Quarter Life Crisis ini karena dua alasan utama. Pertama, karena njomplangnya antara ekspektasi dan realita yang sedang kita jalani dan kedua, karena greener grass phenomenon. Dan saya rasa setiap orang pernah mengalami hal ini. Bahkan orang-orang sukses itu, dulunya juga melalu tahap ini namun berhasil bertahan. Kenapa saya bilang njomplang antara ekspektasi dan realita? Karena kita seringkali membayangkan usia 25 sebagai usia keemasan pertama dimana kita sudah menyelesaikan studi serta mendapatkan karir dan pasangan impian. Rasanya, impian itu terlihat nyata bagi orang-orang berusia awal 20an, termasuk saya waktu itu. :p I had set everything well. Saya kuliah dengan bener, kerja bener, nggak macem-macem, even saya sudah menikah, tapi kok ya tetap saja masih dilema.  Hahaa.. Tau nggak sih apa yang salah? Saya salah ngukur prosesnya. Sebagai contoh nih, saya pernah mengalami krisis terkait dengan karir saya. Menurut saya waktu itu, setelah saya lulus S1, saya bisa langsung jadi dosen (karena jaman itu masih ada dosen yang belum S2). Nyatanya setelah saya lulus S1, syarat minimal menjadi dosen adalah S2. Fyi, saya lulus S1 di usia hampir 23. Lalu saya langsung lanjut kuliah master which is butuh proses 2 tahun, jadi saya lulus master di usia 25. Nah, sekarang udah tau kan gimana biar nggak njomplang? Harus pinter hitung-hitungan! Hahhaa..

Di samping itu, anggapan kebanyakan orang, termasuk saya, bahwa usia 25 itu adalah usia dimana seseorang matang baik dari segi tampilan maupun mental. Iya, matang macam sosok usia 25 tahun yang ditampilin di film-film keren gitu. Pakaian rapi ala eksmud, tutur kata dijaga, suara ngebass-ngebass mahal, senyum seperlunya, nggak manja apalagi cengeng, pokoknya kelihatan classy lah. Tapi nyatanya, saya masih haha hihi, masih doyan pakai kaos dan sandal jepit kemana-mana, menertawakan hal-hal konyol, masih manja, gampang mengeluh, masih nangis kalau nonton iklan-iklan Thailand, masih ngomongin Spongebob sama temen-temen dan masih ketawa pada lelucon yang sama sejak jaman S1. Hahaha.. Usia matang macam apa ini?! >,<

Well, saya pernah cerita ke suami tentang dilema saya yang berlebihan dibandingkan yang suami alami. Dan dia bilang kalau saya terlalu fokus sama apa yang belum saya capai. Saya melupakan modal-modal yang saya miliki untuk dikembangkan lebih baik lagi. Dan ya, mungkin itu benar meskipun waktu itu saya belum bisa menerimanya. :p Jadi, saya seringkali sibuk bertanya "kenapa ini bisa terjadi, padahal aku tuh nggak bla bla bla, tapi kenapa kok gini, kok bisa?". Saya terlalu lama tenggelam dalam balon angan-angan "harusnya bisa gini, harusnya berhasil, harusnya bla bla bla" hingga lupa buat nyari solusinya. Hahaha.. (Ketawa getir :p)

Nah, untuk greener grass phenomenon saya juga pernah mengalaminya. Hahaa.. Saya rasa setiap orang pernah mengalami ini. Hanya saja, sekarang lebih gampang banget terjadi di jaman digital ini. Pasti pernah kan ngerasa mupeng atau bahkan envy sama pencapaian temen kita? Nah, di situlah terjadi greener grass phenomenon alias "rumput tetangga terlihat lebih hijau." Ingat guys, cuma terlihat saja. Aslinya mah ya emang lebih hijau! Hahaa.. Nggak, nggak, aslinya mah ya cuma dia dan Tuhan yang tahu. Tapi ya setelah dipikir-pikir, kenapa sih harus ribet mikirin pencapaian orang lain? Apalagi sampai bikin panas dan lupa bersyukur. Padahal orang itu belum tentu lho mikirin kita juga. Dan setelah kita memusingkan pencapaian orang lain justru  bikin lebih sesak di dada. Nah lo!

Setelah saya merenungi lagi (ceilah) apa yang suami saya katakan, saya akhirnya memutuskan untuk belajar berdamai dengan diri saya sendiri. Meeenn, berdamai dengan diri sendiri itu lebih susah dibanding berdamai sama orang lain. Karena ketika sebagian diri kita mulai berusaha merelakan yang terjadi biarlah terjadi, tapi sebagian diri kita yang lain masih menuntut kesempurnaan. "Harusnya ya bisa, ya berhasil, kan kamu udah ini, itu, bla bla bla." Pokoknya berisiiiikk bangeettt di dalam kepala. Hahaha.. :D Ada sebagian orang yang bilang, "makannya hidup itu realistis aja, nggak usah idealis". Well, saya lebih setuju kalau dibilang "lebih baik kita mengatur ekspektasi kita sesuai dengan kemampuan kita jadi tetap kerasa ideal di mata kita." Hehee.. Sama aja realistis ya? Hahaa.. Ya realistis yang elegan lah. Karena kalau ada yang bilang "realistis aja lah" gitu tuh seringnya menyakiti hati orang yang sedang berusaha lebih. Dan kesannya langsung pasrah aja gitu. Menurut saya, yang lebih tepat itu bukan realistis tapi terukur. Tsaaaahhh. :D

Well, finally I need to say this. Number is just number. If you're dealing with your quarter life crisis, dance with it! Mari menikmatinya. Tahap ini adalah tahap pendewasaan. Setiap orang pasti melewati proses ini, dan hanya mereka yang bisa bertahan yang bisa keluar dengan elegan (kayak di Benteng Takeshi :p). Dulu saya lebih fokus sama target jangka panjang, 5 tahun lagi mau ngapain, 10 tahun lagi mau ngapain, umur sekian harus ini, harus itu dan akhirnya hidup jadi sepaneng. Sekarang saya memilih untuk lebih fokus sama apa yang saya kerjakan saat ini. Rasanya, proses yang sempurna itu otomatis membawa kita pada titik yang lebih membahagiakan. Kok bukan membawa pada hasil yang sempurna? Berhasil atau tidak, itu Allah yang ngatur. Yakinlah, proses yang sempurna itu lebih penting karena hasil yang sempurna itu sebenarnya bonus saja. Hasil yang sempurna juga terjadi karena ada rahmat Allah disana. Mungkin ini yang dikatakan jangan berorientasi pada hasil, tapi proses. Karena, meskipun hasil yang kita dapat belum sempurna, tapi proses yang kita jalani sempurna. Sempurna dalam mempelajari, berusaha, mengejar, bersabar, melepaskan, merugi, hingga akhirnya kita tetap kuat ketika harus memulai kembali. :)

Yes, it's right that you need to be better day by day, year by year, but don't ever measure your shoes with somebody else's. Meskipun usia 25 dikatakan sebagai usia matang seseorang, kalian punya versi matang kalian sendiri (dengan berlandaskan agama dan hukum, tentunya). Just be better version of you. Nggak perlu membandingkan pencapaian kalian sama orang lain. Buat saya yang penting saya berproses menjadi lebih baik dan manfaat buat orang lain. Jadi, buat kalian yang sedang berada di usia 25an dan masih mengejar mimpi-mimpi yang tertunda, atau masih berusaha menjadi sosok manusia 25 tahun yang kalian impikan, lanjutkan. Tidak ada yang terlambat. And keep going meskipun ternyata di usia 25 tahun ini kalian masih melakukan hal-hal konyol atau masih sering nangis karena proses yang berliku. Dan buat kalian yang masih di awal usia 20an dan masih membayangkan bahwa usia 25 tahun itu adalah usia keemasan untuk kalian, it's totally OK. Yang penting ketika pasang target harus sesuai dengan usaha dan harus bener ngukurnya. :D Tapi di atas itu semua, jangan lupa bahagia dan buatlah orang lain bahagia dengan apapun yang kita punya. Karena orang yang benar-benar sukses itu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi sesama, berapapun usianya. :)

Terimakasih ya sudah mampir. Sampai jumpa di postingan-postingan berikutnya. :D




Mita Royya




*Ditulis sambil bernostalgia :)
____________________________________________________________________________________
Gambar dari: http://cdn.notonthehighstreet.com/ dan http://www.talentedheads.com/

You May Also Like

4 comments

  1. Kayaknya somehow aku relate to this deh, haha, ternyata ada fenomina ilmiahnya yak and semua orang hampir mengalami. Betul banget usia 20an emang lagi semangat-semangatnya ngeset our life goal pokoknya harus bisa ini itu di usia 25an. Tapiiii nyatanyaa tetott, ada beberapa yang tercapai, ada yang masih dalam proses dan ada beberapa yang mungkin emang benar-benar tidak bisa tercapai.

    Agree! Solusinya adalah berdamai dengan keadaan dan situasi diri sendiri. Take a deep breath and accept the reality, haha soalnya kalau ga bakalan stres sendiri cuyy.

    Well, you still have long way to go to pursue your dream my dear...jangan patah semangattt masih 25 ginii hahaha *duh berasa tua banget yak gw. Aku yakin miftah bakalan jadi dosen yang sangat menginspirasi dan berpotensi nantinya, just wait and see! , mungkin kita diminta untuk mampir ke beberapa tempat dulu sebelum akhirnya mencapai tempat tujuan yang kita inginkan. Mungkin biar kita ada 'bekal' yang cukup kali ya. Q jg akhirnya bs jd dosen setelah mampir-mampir dan berhenti dulu di banyak tempat dan finally i realize that itulah jalanku soo dinikmati aja prosesnya

    Dance with it dear! Keep Fighting!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaakkk, mbak intan my loyal reader & commentator.. 😘😘😘

      Iya mbak.. Kegalauan ini ada jg secara ilmiah, psikologi tepatnya..
      Actually, ini tulisan udah lama.. Cm baru q publish.. Jd pas publish ini sbnernya lg biasa aja perasaannya, gak lagi galau.. Xixixii..

      But iya mbak.. Krna q berdamai dg diri q sendiri, jd lbh ringan skrg krn ekspektasinya jd terukur.. Dalam semua hal.. (Tentang mjd dosen itu salah satunya aja, hihii)

      Q bljr banyak dr mbak intan.. 😘SEORANG mbak intan aja nunggu sekian tahun utk bisa bnr2 jd dosen, aplgi q yg cuma remahan bakpia ini.. Wkwkwkk.. πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚
      Makasiiih mbak intan motivasinya.. I'll dance with everything in my life.. Hihiii.. 😁😁😘😘😘

      Delete
  2. pas banget ini
    sama persis abis lulus s2 masih sama aja
    bedanya mba ini udah nikah siii.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihiii.. Ngga apa2.. Dinikmati aja prosesnya.. Nanti pasti bakal nemu hikmah pelajaran yg ngena banget di hati.. 😊 Semoga disegerakan jg utk calon imamnya.. πŸ˜‡
      Makasiiih ya udah mampir.. πŸ˜‡❤

      Delete