S2 itu Lebih Gampang ya dari S1?

by - December 22, 2016


Cerita Gadjah Mada Tua

Hallo.. Jumpa lagi di blog saya. Kali ini saya pengen ngomongin pengalaman saya menjadi Gadjah Mada Tua alias Gamatu. Wekekekeekk.. Pasti kalian sudah nggak asing lagi sama istilah Gamada alias Gadjah Mada Muda. Itu adalah sebutan untuk mahasiswa baru (maba) S1 UGM. Nah, kalau untuk S2 biar sama-sama kece sebutlah Gamatu, sebutan untuk maba UGM golongan tua senior. :p Selama saya menjadi gamatu alias mahasiswa pascasarjana, banyak pertanyaan dari orang-orang ke saya. Mulai dari kenapa kok lanjut S2, kenapa nggak kerja mapan dulu, ambil jurusan apa, kenapa ambil jurusan itu, biayanya berapa, mandiri apa beasiswa, bayar sendiri apa dibayarin suami apa malah dibayarin orang tua (untuk jawaban yang ini boleh cek ke Galau Level 2: S2 vs Menikah), dan masih banyak lagi. Tapi, pertanyaan yang paling pengen dinyinyirin adalah "S2 itu lebih gampang ya dari S1?" Ehm, ehm, sebelum saya jawab, saya mau makan yang kenyang dulu biar nanti sepanjang menulis jawaban itu nggak ada nafsu lagi buat makan orang. :p

OK, saya sudah kenyang. Mari kita mulai. Jadi, untuk orang yang pernah bertanya demikian pada saya, atau untuk kalian yang masih berpikir bahwa S2 itu lebih gampang dari S1 ------------- nggak apa-apa, kalian mungkin hanya sedang tersesat dan kehilangan arah. Mari saya tunjukkan jalan menuju Taman Pintar. :p Lemme say, kalian ada benarnya kok. Nggak 100% salah. Tapi  sorry to say, mungkin cuma 2% tingkat kebenarannya. :p OK, S2 memang lebih gampang dari S1 in terms of enrollment. Untuk seleksi masuknya memang boleh dibilang lebih mudah dari S1 karena kita nggak ada tes nasional macam SNMPTN, SBMPTN atau apapun semacam itu yang saringannya rapeeeeetttt bangeeeettt yang bikin saya nggak lolos masuk FKG. Hahahaa.. :D Hal ini setidaknya karena dua hal. Pertama, peminat pascasarjana nggak sebanyak peminat program sarjana karena berbagai faktor seperti kebutuhan dan ekonomi. Kedua, calon mahasiswa pascasarjana bukan lagi dites mengenai penguasaan ilmu atau teorinya, tapi lebih kepada potensinya menerapkan bahkan mengembangkan keilmuannya. Weseeeehh! :D

Tapi tetep ada seleksinya dong. Jangan dikira langsung masuk aja. Ada syarat minimal IPK, miniml skor TOEFL ITP/ACCEPT dan TPA/PAPs, surat rekomendasi dosen, daaaannn rencana penelitian. Gampang ya? Iya, gampang banget kalau kalian memang sudah niat S2 sejak hari pertama kuliah S1. :p Ya tetep ada usahanya lah ya. Nggak mudah bagi sebagian orang untuk lolos TOEFL ITP begitu juga lolos skor TPA. Fyi, TPA itu isinya campuran antara itung-itungan, bahasa dan psikologi. Ya mirip-mirip ikut UM UGM lagi lah. Dan yang bikin greget, waktu ngerjain TPA kita nggak boleh membuka kembali halaman sebelumnya ketika sudah ada instruksi dari pengawas untuk membuka halaman berikutnya. Horor kan? Iye! Saya pun belajar dulu sebelum tes. Untungnya saya lolos. :D Selain itu, nggak mudah juga bagi sebagian orang untuk dapat rekomendasi dari dosen atau profesornya ketika S1. Apalagi kalau dia mahasiswa yang bermasalah dulunya. Alhamdulillah saya dimudahkan. Terakhir, bikin rencana penelitian. Ini gampang-gampang susah. Tapi kalau nggak bener-bener niat S2 ya ngapain capek-capek mikirin rencana penelitian gitu kan ya. Apalagi kalau udah cukup lama dari lulus S1, udah pada lupa ilmunya. Jadi, masuk S2 juga tetap ada usahanya. Jangan dikira cuma ngumpul fotokopi ijazah sama KTP. :p Dan dari syarat administrasi yang katanya gampang itu, nyatanya ada juga yang nggak lolos pada akhirnya.

Kalau seleksi masuknya tetap kalian anggap gampang, baguslah. Berarti kalian sudah nyicil bekal buat S2. Tapi itu semua rasanya nggak ada apa-apanya dibanding proses S2 itu sendiri. Meeennn, selama proses S2 itu, saya beberapa kali pengen nekan tombol EXIT karena rasanya empet banget! Saya nggak nyangka S2 sekejam itu! Hahaa.. Banyak hal di dalam S2 yang jauh, jauh, jauh lebih sulit dibanding S1. Ini nih beberapa diantaranya.

1. Waktu adalah Buku dan Tugas

Ini benar-benar terjadi di jurusan saya. Fyi, saya ambil S2 Linguistik di FIB UGM. Apaan itu Linguistik? Kapan-kapan saya jelasinnya ya. :D OK, back to the topic. Iya, waktu adalah buku dan tugas bagi kami. Kenapa ini terasa berat untuk kami? Ada beberapa alasan. Pertama, alasan umum adalah karena budaya membaca di Indonesia masih rendah. Jadi, ketika kita disuruh baca, apalagi baca hal-hal yang cukup berat pasti udah nyerah duluan. Baca cerpen aja banyak yang nggak sanggup, apalagi ini baca buku teori yang mostly berbahasa Inggris. Meskipun saya doyan baca, tapi kalau terus-terusan disuruh baca buku teori ya empet juga. Dan parahnya lagi, buku-buku yang kami baca isinya adalah teori bahasa, berbagai macam bahasa. Jadi, bahasa dijelaskan menggunakan bahasa. Atau bahasa menjelaskan bahasa. Nah, kenyang kan! :D Selain itu, banyaaaakkk banget istilah-istilah baru dan asing yang harus kami pahami. Sinkope, apokope, metatesis, parole, langage, aglutinatif, resistensi, lokusi, ilokusi dan masih banyak lagi. Belum lagi, ternyata di Linguistik juga ada hitung-hitungannya. Aduuuuuhhhh, perut saya pusing! Hahaa.. Ditambah lagi ada mata kuliah yang selalu ngadain kuis setiap minggunya. Dan ini bukan kuis berhadiah ya. :D

Buku, buku, buku lagi
Alasan kedua, khusus untuk saya, kenapa membaca buku terasa berat, karena saya baru saja menikah! Hahaa.. Paham lah ya, masih pengantin baru pengennya berdua terus, jalan-jalan, seneng-seneng dan semacamnya. Eh, ini malah diisi dengan baca buku teori. Bahkan lucunya, sampai-sampai suami saya pernah protes karena menurutnya saya terlalu rajin baca buku. Hahaa.. Padahal diantara teman-teman yang lain, saya termasuk golongan yang cukup malas. :p Alasan ketiga, karena saya nyambi kerja. Iya, ini tantangan banget. Keluarga, kuliah, kerja. 3K ini semuanya harus jalan dengan balance. Saya nggak mungkin mengalahkan salah satunya demi yang lain. Yang bisa saya lakukan hanyalah berusaha lebih ekstra dibanding teman-teman saya yang nggak nyambi kegiatan lain. Meskipun saya benar-benar tertatih. -_-

Sesi foto sebagai hiburan di sela-sela nugas
Nah, kalau tugasnya gimana? Bukan lagi, buanyaaaakkkk bangeeettttt! Apalagi jaman semester 2. Aaaahhhh, mengingatnya saja sudah bikin dahi saya berkerut, seriously. Setiap minggu selalu ada tugas. Jadi full satu semester itu kami nggak pernah nyantai sama sekali. Sama sekali! Tugas makul A selesai, giliran makul B, minggu depan makul C, balik lagi ke makul A, dan seterusnya. Gitu terus pokoknya. Dan amazingnya, semua tugas bentuknya PAPER! Iya, PAPER PENELITIAN! Jadi waktu semster 2 berasa keren banget gitu karena punya beberapa paper dengan berbagai topik. Dan, nggak bisa dipungkiri kalau ini juga membawa keberuntungan karena saya dan beberapa teman yang lain jadi bisa ikut seminar atau konferensi untuk mempresentasikan paper kami karena kami punya stok paper yang banyak itu. Hehee.. Makasih ya Linguistik UGM. :*

2. Tidur Cukup adalah Mitos

Nah, sebagai efek dari tugas yang buanyak, maka terjadilah mitos tidur cukup. Jaman S2, bisa tidur 8 jam sehari itu langkaaaaa bangeetttt. Paling bagus kami bisa tidur 5-6 jam sehari. Kalau sekali, dua kali seminggu kayak gitu sih nggak apa-apa ya. Lha ini, sepanjang masa S2 kami men! Siangnya kuliah padet, terus kalau tugas benar-benar barengan deadlinenya, seringkali kami hanya tidur 3-4 jam. Dan itu seringkali terjadi menjelang ujian semester, terlebih semester 2. Jadi, semester 2 itu semacam kawah candradimuka buat kami. Karena ritme tidur kami berantakan, ritme makan berantakan, apalagi ritme mandi. Hahaa.. Jadi ritme tidur kami kira-kira gini, pagi sampai sore kuliah. Malam ngerjain sampai jam 10 atau 11. Lalu tidur sebentar sampai jam 2. Lalu berjuang lagi sampai matahari menyingsing. Gituuuuu terus sepanjang semester. Dan UAS semester 2 kami bertepatan dengan Ramadhan. Mantap bukan? :D Kalau kalian ada yang penasaran kok kuliahnya dari pagi sampai sore, kayak S1? Ya begitulah adanya. Kami kuliah S2 reguler, bukan yang kelasnya khusus weekend ye. :p

Ngomongin soal ritme tidur yang berubah, sebagian dari teman-teman saya bahkan ada yang tempat tidurnya alias kosnya juga pindah. Iya, mereka pada tidur di warnet yang buka 24 jam. Jadi, biasanya ada sekitar 3-4 orang gitu yang pada ngerjain tugas di warnet. Terus nanti saling membangunkan gitu kalau dirasa tidurnya udah "kelamaan". Padahal kelamaan itu ya cuma 2-3 jam. Bahkan kalau memang tight banget waktunya, ada juga yang sama sekali nggak tidur yang efeknya adalah kuliah tanpa mandi. Hihii.. Amazing memang. Saya kebetulan nggak bisa ikut jadi warnet squad karena di rumah sudah ada suami yang siaga menyemangati, meskipun dia juga butuh semangat. Hahaa..


Everywhere is bedroom

Untuk saya, perjuangan nggak cuma sampai sini. Tanggung jawab ke keluarga dan kerjaan juga nggak boleh dilupakan. Untungnya selama kuliah S2, kami nggak pernah punya masalah yang bener-bener serius. Paling ya ngambek-ngambekan saja kayak orang pacaran. Padahal mah cuma karena kurang perhatian gara-gara lebih perhatian sama buku. Hahaa.. Tapi tetap ada yang dikorbankan di dalam rumah tangga kami selama S2 kami, yaitu urusan rumah. Jadi rumah udah kayak kapal pecah setiap hari. Iya, SETIAP HARI. Energi dan perhatian kami sudah habis untuk S2 dan kerja. "Kalau weekend kan bisa diurus itu rumah?" Nope! Kami memilih jalan-jalan, main sepuasnya sebagai bekal mengahadapi kenyataan on weekdays. Hahaa.. Perkara masak, saya juga jaraaanngg bangeettt masak. Bisa dihitung lah berapa kali saya masak dalam sebulan. Pasti kurang dari 5 kali. Alhasil gas kami awet sampai berbulan-bulan. Sampai-sampai mertua heran kenapa nggak pernah beli gas. Hahaa.. :D

Soal kerjaan kantor, beeuuhhhh drama lagi. Fyi, saya dulu ngajar di Language Center nya salah satu universitas swasta di Jogja. Suami saya juga ngajar di salah satu kampus swasta di Jogja (selain jadi engineer bareng teman-temannya). Sudah rahasia umum kan kalau dosen itu pas akhir semester kerjaannya numpuk. Koreksian mahasiswa numpuk. Ditambah lagi karena nyambi jadi mahasiswa S2, tugas kuliah kami juga numpuk. Jadi, awul-awul dah! Biasanya saya dan suami saling membantu koreksian satu sama lain. Entah bantuin bagian pilihan ganda atau bantuin ngitung nilai. Karena nggak mungkin kalau bantuin bagian essay. Hihii.. Hal ini kami lakukan karena memang koreksian harus segera selesai dan kami, khususnya saya, bisa segera kembali ngerjain tugas kuliah atau segera kembali belajar karena besoknya kuis. Rasanya tuh setiap hari kayak ada yang dorong-dorong punggung saya. Nggak bisa woles. Hahaa.. Dan itu semua kami lakukan di dalam rumah kami yang kondisinya lebih dari awul-awul. Anggap saja awul-awul itu adalah sumber inspirasi kami. :D

3. Obat dan Dokter adalah Kawan Akrab

Ah serius, ini bener bangeeetttt. Saya inget banget rasanya ketika migraine saya parah nggak sembuh-sembuh selama berminggu-minggu padahal sudah minum obat. Nggak cuma obat warung, obat dari dokter juga sudah saya minum. Tapi tetap sama aja. Waktu itu semester 2. Akhirnya saya putus asa dan mencoba berkawan dengan migraine waktu itu. Hingga akhirnya semester yang bagai kawah candradimuka itu berakhir dan ajaibnya sejalan dengan itu, berakhir pula lah migraine saya. Hahaa.. Ternyata kepala saya terlalu berat mikir selama semester itu, ditambah siklus tidur yang nggak jelas.

We were close friend

Selain migraine, saya juga akrab dengan kawan baru bernama asam lambung. Huft.. Sebelum S2, saya nggak pernah ada masalah dengan lambung. Ya meskipun kadang ada masalah dengan pencernaan. Dan karena golongan darah saya O ya mungkin juga memang lebih rentan dengan urusan pencernaan. Tapi serius deh, sebelum S2 my side was so fine. Ya paling kembung-kembung biasa. Tapi setelah S2 khususnya semenjak semester 2 itu, eemmmhhh saya tiba-tiba sering mual. Meeennn, saya awalnya kan udah GR ya dikira hamil. Hahaa.. Setelah ke dokter ternyata asam lambung saya naik. :( Dan kalau pas asam lambungnya naik agak parah bisa sampai bikin migraine juga. Komplit pokoknya. Ya sudah, sejak saat itu saya jadi sangat akrab dengan obat pereda nyeri dan obat maag. Dan setiap saya periksa ke dokter, ada satu dokter jaga yang kayak udah hafal gitu setiap saya periksa. Beliaunya suka nanya dengan nada agak mengejek dan bercanda "Kenapa?". Saya cuma bisa meringis dan malu-malu bilang, "Hehee, asam lambungnya naik lagi". Hihiii..

Mungkin bagi orang yang nggak pernah ngalamin asam lambung, mungkin hanya akan melihat penyakit ini biasa aja tantangannya. "Ah, nggak boleh makan pedes sama asem doang kan? Gampang itu." Iya gampang kalau kamu punya juru masak pribadi terus bisa request masakan yang nggak pedes dan asem. Kalau nggak? Yaelah, ya sudah kamu terpaksa makan hambar atau makan menu wagu. Jadi kalau beli nasi goreng tanpa cabe sama sekali, begitupun kalau beli lotek. Makan pempek juga pakai kuah yang manis aja. Wagu sekali! Apalagi kalau temen-temen ngajakin ke SS dan sejenisnya, saya biasa apa? Makan lauk sama nasi putih. Udah gitu aja. Ya gimana lagi kan ya? Sambel udah jelas nggak boleh, mau tumis kangkung juga ada cabenya. Ya sudah, makanan nggak apa-apa hambar, asal hidup saya jangan hambar juga. :D

4. Pejuang Tesis adalah Mujahid Ilmu

Nah, ini pamungkas banget nih. Ngomongin kuliah rasanya nggak afdol kalau nggak ngomongin tugas akhir, alias TESIS. Ngerjain tesis itu drama banget buat kami. Lebih drama dibanding ngerjain skripsi tentunya. Iyalah, kami dituntut untuk bisa menerapkan ilmu yang sudah kami pelajari menjadi suatu penelitian yang bermanfaat. Kata bermanfaat itu rasanya sederhana ya, tapi prakteknya meeeeennnn, banjir air mata. Hahaha.. Mulai dari seminar tesis yang judulnya masih ngasal. Lalu masuk ke tesis yang akhirnya ganti judul. Saya bersyukur dari seminar tesis ke tesis cuma ganti judul satu kali. Beberapa teman saya ada yang ganti judul dua bahkan tiga kali. Tapi ada juga yang keren karena istiqomah dengan satu judul sejak dari seminar hingga lulus. Mantap!

Sudah bukan rahasia lagi kalau ngerjain tugas akhir itu memang penuh drama. Mungkin biar punya kenangan yang cukup heroik gitu kali ya. Iya, heroik karena mengalahkan kemalasan diri sendiri. Hehee.. Drama yang dialami mahasiswa pascasarjana juga nggak cuma remeh temeh. Karena sebagian dari kami sudah ada yang berkeluarga, kerja, ataupun keduanya. Yang masih single juga drama, karena galau mikirin nikah. Pengen nikah tapi masih tesis. Pengen ngelarin tesis tapi kebelet nikah. Alhasil yang ada malah mager. Galau Level 2,5. :p Nah, kalau jaman skripsi kebanyakan kendalanya adalah susah ketemu dosbing, atau di php dosbing. Tapi selama menjadi pejuang tesis di Linguistik UGM, saya dan teman-teman saya tidak ada yang mengalami di php-in dosbing. Dosen pembimbing kami memiliki jadwal bimbingan tesis, biasanya seminggu dua kali. Tapi ada juga yang setiap hari beliaunya bisa ditemui untuk bimbingan. Jadi, kami lancar jaya kalau masalah bimbingan dan nggak ada ceritanya dosen menghambat mahasiswa untuk lulus on time bahkan in time hanya karena dosbingya susah ditemui. Yang nggak lancar alias macet adalah nulis tesisnya. Hahaa.. Meeennn, ngumpulin ide, teori dan data itu bukan hal yang mudah. Baru bagian awal begitu, pun masih bisa dichallenge sama dosbing. Idenya nggak visible lah, terlalu mainstream lah, teorinya nggak cocok, data kurang banyak, kurang representatif, kurang valid dan sebagainya. Terus meskipun bagian awal sudah kelar jangan dikira analisis akan gampang-gampang aja. Nope! Saya pribadi semasa ngerjain analisis pernah ngganti satu bab full gara-gara alur analisis saya nggak sejalan dengan spirit of the motion title. Mungkin kalau jaman skripsi S1 saya bakalan marah-marah setelah keluar dari ruang bimbingan terus nggosip sama temen-temen kalau dosbing saya nyebelin, ngganti analisis seenaknya, kenapa nggak bilang dari awal dan lain-lain. Tapi anehnya, semasa ngerjain tesis kemarin saya justru bersyukur karena ditunjukkan jalan yang sedikit terjal oleh dosbing saya tapi menyelamatkan saya di akhir perjuangan. :) Dan manisnya lagi, khusus kelompok dosbing saya, kami nggak ada nggosipin jelek tentang dosbing kami. Iya, kami Alhamdulillah dapat dosbing yang selalu mencerahkan dan menunjukkan jalan kebenaran. :D

THESIS lol

Terus pertanyaannya, "Nah itu enak, mana susahnya ngerjain tesis?" Jadi, karena dosen pembimbing saya itu luar biasa keren penguasaan dan penerapan ilmunya, jadi saya yang hanya remahan bawang goreng ini harus mengimbangi dengan belajar, belajar dan belajar lagi agar paham waktu bimbingan. Perasaan ini melanda semua teman-teman saya dalam kelompok bimbingan beliau. Karena nggak dipungkiri selama bimbingan tesis pasti dosbing akan nanya kenapa kok judulnya ini, datanya ini, teorinya ini, maksud yang ini apa, bukannya begini ya, kalau menurut ahli X kan begini bukan begitu, jadi mana yang lebih cocok, lalu parameternya apa, kalau misal saya punya data kalimat seperti ini apa bisa juga disebut sebagai hal yang sama dengan yang kamu analisis, bedanya sama penelitian sebelumnya apa? Kalau saya nggak belajar lagi dan persiapan matang sebelum bimbingan pasti akan glagepan bangeeettt. Udah belajar aja kadang masih glagepan, apalagi nekat main dateng aja ke dosbing. Haduuuuhh, it doesn't seem good.

Jadi karena ilmu dosbing itu bagai samudera dan kami buihnya, maka yang terjadi ilmu kami belum mampu menjangkaunya. Dan macet, buntu. Dan nangis akhirnya. Hahahhaa.. Iya, saya pernah nangis gara-gara nggak nemu jawaban atas pertanyaan yang diajukan dosbing saya pada minggu sebelumnya. "Lebay banget sih? Ya udah sih nyerah aja, dibuat biasa aja." I'll say, nggak bisa! Pasti pernah kan ngrasain atmosfer ilmu yang bener-bener lagi enak banget masuk ke otak kita. Kita paham alurnya, cara berpikirnya, setuju dengan itu tapi cuma belum nemu jawabannya yang harusnya nemu. Kan gemeeeessss bangeettt rasanya. "Aku tuh tau maksudnya. Aku yakin ada teori tentang ini. Tapi aku harus nyari pakai keyword apa? Bukunya apa? Aaaaaakkkkk!!!" Iya, gitu kira-kira di dalam otak saya. Karena memang kami nggak boleh menjawab pertanyaan tanpa landasan ilmu atau tanpa analisis yang masuk akal, atau tebak-tebak aja. Jadi ya bener-bener mikirnya dipolin mentok sampai kelelahan dan akhirnya tertidur.

Mungkin saya terlihat cengeng karena ngerjain tesis aja pakai nangis. Wait, saya nggak sendiri. Hahaha.. Beberapa temen saya yang cewek juga pada nangis karena buntu idenya dan belum sampai pada target analisis yang harusnya dicapai. Belum lagi untuk kami yang sudah berumah tangga atau bekerja atau keduanya, tantangan nyelesaiin tesis on time itu sesuatu bangeeettt. Keinginan terbesar dari setiap pejuang tesis kala itu adalah "Aku pengen udahan." Terus yang lain menimpali, "Ini cuma bisa diakhiri dengan dikerjain." Hahahahaa.. Lemes lagi. :p Dan ini baru perjuangan nulis tesis, belum sidangnya. Hahaha..

Situation every woman can relate

Meskipun perjuangan ngerjain tesis itu kayak mujahid yang lagi perang, tapi jangan khawatir, akan selalu ada tangan-tangan tak terlihat yang pasti membantu kita. Bantuan itu bisa lewat mana aja, lewat dosbing kita yang dengan gamblang nunjukkin jalan keluar, atau lewat pikiran kita yang tiba-tiba paham dengan teori yang sedang kita akrabi, atau analisis kita yang semakin memperlihatkan titik terang, atau bahkan lewat kejadian-kejadian sekitar yang menyetrum ide di dalam pikiran kita tiba-tiba. Yang perlu diingat, untuk kalian yang sekarang sedang menjadi mujahid ilmu, terutama pejuang tesis, jangan lama-lama berjauhan sama tesis kalian. Karena bakalan lupa kalian nulis apa, sampai dimana, kurang apa. Dan yang nggak kalah penting, dosbing kita tuh nggak ada niatan buruk buat ngerjain atau memplonco kita. Beliau-beliau justru memperlakukan kita dengan sangat profesional karena menganggap kita sebagai partner keilmuan yang ide dan gagasannya sangat dihargai. Makannya kita dibiarkan berpikir dan mencari jalan keluar sendiri dulu, bukan langsung dituntun kayak anak kecil, baru kalau ada yang kurang tepat diluruskan.

***
Finally, tulisan ini selesai juga. Jujur ya, baru kali ini saya bikin postingan yang selama nulis dahi saya berkerut-kerut. Yap, I can feel those moments exactly the same like when it happened. Hahaha.. Well, sebelum closing saya mau kasih disclaimer dulu. Postingan ini bukan untuk menakut-nakuti kalian yang mau S2, khususnya di kampus dan jurusan yang sama dengan saya. Tapi, postingan ini justru saya maksudkan untuk memberikan gambaran tentang atmosfer kuliah real S2 itu seperti apa, biar bisa siap-siap dan siapa tau lebih tertantang. I know, you guys love challenge like you love chasing your spouse. :p Makasih ya udah mampir. See ya di postingan-postingan berikutnya. :) :*



Mita Royya


*Ditulis sambil merindu



_________________________________________________________________________________
Sumber gambar: google.co.id dan instagram pribadi @miftah_royani

You May Also Like

10 comments

  1. Ohmaigaaat, rinduuu suasana kelas, rindu gelak tawa kawan-kawan linguistik, kangeen sama kuliahnya Prof Putu, *yang aku inget yang hepi2 aja bagian tugas LHK, Dialektologi dkk lewaaatt...hahaha

    Bener banget aku pernah ga tidur selama satu minggu pas UAS, gara2 nyelesain paper2 yang kudu dikumpul.. GA Mandi??Seriiiing buahaha, ngacir aja langsung ke TU buat kumpulin tugas biar ga lewat deadline.

    Tapi setelah semua pahit asam manis itu terlewati, sekarang yang tersisa kangen dan pengen ngulang lagi yah! Hauahhaa....

    Btw theme blognya tambah bagus, seger, tapi simple. Suka nuansa ungunya, hihi .. ayo komen2 d blog baruku hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahaha.. Iya beneeerrr mbaakk.. Q pun kangeenn dg semuanya, trmasuk dramanya.. Hahahaa..
      Wkwkwk.. Huum yg 2 makul itu dijadikan kenangan yg disimpan di pojokan.. Udh tutup buku sama yg itu.. Hahaaa..
      Okay mbaak, besok2 q komen ya.. Kemarin q mo komen tp hrs masukin nama email gt kan mbak.. Hehehe
      Makasiiih mbaak, q msh belajar jg dg template ini mbak.. Wkwkwk 😁

      Delete
  2. Menurut saya kuliahnya gampangan s2, tapi di tesisnya itu yang hampir bikin meleleh. Berbanding terbaik dengan s1. Alhamdulillah saya bisa selesai tepat waktu, walaupun hampir nyaris.. Soalnya saya ga kuat bayangin harus bayar sendiri kalau tidak sesuai target dan di pinalti sama sponsor, trus malunya balik ke kantor itu yang ga tahan,, hehehe..

    Salam kenal

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya kebetulan dua2nya ngerasa berdarah2.. Hihiii.. Mungkin next time sya posting tentang perjuangan tesis juga ya.. Hehee..

      Salam kenal juga :)

      Delete
  3. saya sekarang sedang menempuh pendidikan S2 di UNY. tugas nya gilaaa banget. tiap hari hrs ngereview artikel n buku yang banyak banget. mana dosennya rada gaje lagi -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah..ambil jurusan apa mbak? Memang S2 itu isinya baca buku & review ya mbak.. Saya dulu juga begitu.. Selamat menikmati mbak.. Hehee.. Semoga dilancarkan.. :)

      Delete
  4. ahahahaa... gw sekarang belum lulus, masih semester akhir (ujung tombak). dan cerita-ceritanya bener-bener reflek bikin inget semua perjuanganku juga. berkawan akrab dengan migren dan gw juga kena asam lambung, padahal selama ini badan gue kebal banget sama yang namanya sakit-sakitan. emang ya presure itu gilak efeknya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waahhh..finally, menemukan orang yang on the same boat dg saya.. hihii.. :D Iya ya mbak, ternyata pressure & pikiran ngefek bangeeettt.. Padahal makan sehari 3x & ga telat2 jg.. hohoo.. Semoga dilancarkan mbak kuliahnya.. :)

      Delete
  5. mba... seneng bgt nemu tulisan mba,soalnya aku galau banget mau S2, antara nikah, kerja, dan pakai uang sendiri. soalnya tahun 2018 sekarang saya yg lagi semangat2nya pengen banget lanjut kuliah S2. mba boleh minta alamat emailnya? atau sy message saja di ig yah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, terimakasih.. Alhamdulillah kalau tulisan sya bermanfaat.. 😊 Btw, sya sudah tulis tuh semua kegalauan itu.. 😁 Bisa cek di postingan "Galau Level 2:S2 atau Nikah" dan di postingan "Galau Lagi:S2 atau Kerja" 😊 Semoga segera menemukan jawaban terbaik ya..Aamiin 😇

      Delete