Isteri itu Harus Bisa Masak (?)

by - December 28, 2016

Pandangan Saya tentang Isteri dan Memasak

Hallo.. jumpa lagi di blog saya. Btw, saya seneng banget karena respon yang luar biasa terhadap postingan saya sebelumnya tentang S2 itu Lebih Gampang ya dari S1?. Terimakasih, terimakasih, terimakasih. Paling seneng kalau ternyata tulisan kita relate ke banyak orang dan manfaat tentunya. :D Semoga postingan-postingan saya yang lain juga demikian.

Nah, kali ini saya mau belok lagi nih ngomongin rumah tangga. Ya, obrolan saya kurang lebih ya itu-itu terus ya. Kalau nggak pendidikan ya rumah tangga. Hehee. Semoga nanti bisa berkembang ke obrolan-obrolan yang lain. Well, kali ini saya pengen ngomongin tentang "kewajiban" memasak bagi seorang isteri. Kenapa kata "kewajiban" perlu saya kasih tanda kutip? Iya, karena memasak itu sebenernya bukan kewajiban siapapun di dalam rumah tangga. Kalau Anda punya ART, nah memasak itu sudah jelas kewajiban ART karena itu memang job desc mereka. Hehee.. Mungkin ada yang langsung protes ke suaminya, "Tuh Mas, memasak itu bukan kewajiban isteri tauk!". Semoga protesnya nggak sampai memicu PD III ya. Hehee.. OK, memasak itu bukan kewajiban isteri ataupun suami (ataupun anak). Ini agama yang bilang begini. Saya ulangi lagi, memasak itu bukan kewajiban isteri. Lalu, apa kewajiban isteri? Kewajiban isteri adalah patuh melayani suaminya. Jadi, kalau suami Anda minta Anda memasak ya Anda wajib masak buat suami. :p

Saya nggak pinter masak. Setiap saya masak menu baru pasti nyontek gugel, instagram atau cookpad. Tapi untungnya suami saya termasuk orang yang nggak pernah nuntut macem-macem di dalam rumah tangga, termasuk memasak. Saya sudah cerita kan, semasa kami kuliah master bareng tuh rumah kami kayak kapal pecah. Masak juga nggak lebih dari 5 kali dalam sebulan. Dan saya bersyukur karena suami saya mengerti kesibukan isterinya yang tentunya juga menjadi prioritas kami kala itu. Saya pun (mencoba) begitu. :p Saya berusaha nggak menuntut suami saya harus seperti suami-suami orang yang kalau libur selalu bersih-bersih rumah, bantuin ini itu. Meskipun suami saya seringkali membantu saya juga tanpa saya minta. Saya mencoba memahami bahwa pekerjaan suami saya memang nggak tentu waktunya, kecuali kerjaan di kantor. Saya juga sudah pernah cerita di Belajar dari Engineer (Part 2) kalau proyek engineer itu bisa dikerjain sampai berbulan-bulan. Belum lagi uji coba alatnya. Kalau kliennya minta uji coba pas hari Minggu ya saya bisa apa? Masak mau marah-marah sama kliennya? Atau bilang "Jadi, klien itu lebih penting daripada aku?" Hahaha, tips rumah tangga nomor 1, jangan berlagak sinetron di dalam rumah tangga. :p Ya meskipun saya pernah protes kalau jadwal suami terlalu padat, atau cemberut kalau keseringan lembur, atau ngambek kalau tiba-tiba rencana liburan harus reschedule dan sejenisnya. Hehee.. Tapi beneran deh, saya tetap berusaha nggak menuntut suami untuk bantuin saya ngurus rumah. Karena dia juga nggak menuntut saya untuk selalu ngurus rumah terutama masak karena dia tahu apa yang sedang jadi prioritas saya. Jadi, kalau orang Jawa bilang "sak tekane". Hehee :D

Ngomong-ngomong soal masak, sebelum saya menikah saya parah banget soal masak. Yang saya bisa cuma bikin mi instan dan telur ceplok. Selain itu nggak bisa. Saya inget banget dulu waktu main ke rumah simbok (panggilan nenek saya), beliau minta saya buat nyuci beras buat masak. Ya udah, saya cuci aja sampai bersih dan terakhir dikasih air secukupnya. Tapi ternyata kata "secukupnya" di dalam memasak itu keramat banget! Alhasil nasi yang saya masak jadi bubur. Benar-benar seperti pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Hahaha.. Di keluarga saya, memasak bukanlah hal yang mendarah daging. Ibu saya bukan tipe ibu yang jago masak. Ya, bisa masak menu yang biasa-biasa gitu. Dan beliau juga selalu masak sih. Tapi kalau udah menu agak ribet macam opor, rendang, soto, bakso, atau makanan-makanan lain yang stepnya banyak atau bumbu rempahnya kuat, ibu saya mending beli mateng aja. Hehee.. Lain sama bapak saya. Beliau paling pinter masak diantara kami semua. Jadi, pernah waktu itu beliau masak dan minta saya bantuin yang ringan-ringan. Eh, beliau tiba-tiba bilang, "Perempuan itu harus bisa masak". Saya jawab, "Nggak harus Pak, saya besok punya pembantu pas udah nikah." Hahahaa.. Yakin, songong banget ya saya! Lalu bapak saya berkata lagi, "Ya boleh pake pembantu, tapi bu xxx itu meskipun kaya raya, punya pembantu, tapi dia tetap bisa masak. Jadi bisa ngasih contoh ke pembantu-pembantunya gimana masak yang benar dan sesuai selera keluarganya." Saya mulai sedikit mikir di situ, tapi kemudian berlalu begitu saja. Hahaa.. OK, sedikit disclaimer ya. Keluarga saya itu demokratis banget. Bahkan kami kalau ngobrol di dalam keluarga pakai bahasa Jawa ngoko. Bukan, bukan karena nggak hormat, tapi karena kami begitu dekat dan akrab seperti teman satu sama lain. Nah, termasuk juga ketika kami berdiskusi atau menyampaikan argumen. Sejauh itu nggak menyalahi norma agama dan hukum, kurang lebih nggak masalah di keluarga saya. Jadi, kalau kami adu argumen dan saya sok pinter itu adalah pemandangan yang biasa saja. Dan tidak dipungkiri pula karena itulah saya menjadi saya hari ini. Tapi kami sebagai anak-anak tahu kok sampai mana batas adu argumen dan berfikir kritis. :)

Nah, ketahuan kan kalau jaman single saya anti banget sama masak. Rasanya tuh kalau wanita diidentikan dengan pinter masak tuh kayak konvensional banget. Kolot banget! Ada beberapa teman saya waktu kuliah S1 yang pinteeerrrr banget masak. Dan teman-teman saya kagum dan menganggap dia macam master chef gitu kalo jaman sekarang. Iya, saya juga kagum tapi bukan termasuk yang sampai suka ngulik kalau masak ini gimana, itu gimana, mending pakai ini apa itu, dan sejenisnya. Saya anggap masakannya enak, udah. :D Ya, meskipun teman-teman saya yang jago masak itu pernah bilang, "Laki-laki itu kuncinya ada di perutnya." Bah! Nggak percaya lah saya! Dan saya kemudian membandingkan dengan diri saya. Ah, ya wajar dia pinter masak, di keluarganya memang begitu tradisinya. Lalu saya bandingkan lagi. Tapi, meskipun mereka pinter masak tapi kan mereka nggak bisa ini itu sebagus saya. Hahaha.. Parah memang saya ini songongnya! Astagfirullah.. Jadi ya sudah, saya tetap bangga dan bertahan dengan my career oriented mindset. Hahaa..

Hingga akhirnya status saya berubah. Saya menikah. Saya dan suami pun beli perlengkapan dapur macam pengantin baru pada umumnya. Padahal saya nggak bisa masak. Hahaa.. Lalu saya mikir waktu itu. Masak iya, kompor ini nggak akan dipakai seumur-umur? Masak iya kado Magic Com yang sampai 2 biji ini juga nggak akan dipakai? Dan saya bertanya-tanya tentang semua alat-alat masak yang kami miliki. Kapan mau dipakai ya? Masak iya sekarang mau pakai pembantu? Diketawain orang lah, masih berdua ini, nggak terlalu sibuk juga, duit belum banyak-banyak banget juga, masak iya perlu pembantu? Hingga akhirnya saya beranikan diri menyentuh wajan, minyak, tempe, telur, bawang, garam dan teman-temannya yang masih sederhana. Iya, masih di lingkup goreng-menggoreng. Dan, ketika saya sajikan menu yang sederhana itu buat suami, dan melihat suami makan dengan nikmat, ada rasa yang lain menjalar di hati. Seneng, bahagia, terharu, bangga, puas, campur-campur pokokknya. Saya juga merasa aneh pada diri saya sendiri. Saya yang dulu anti banget sama masak-masak, sekarang rasanya pengen masaaaakkk terus buat suami. Apalagi kalau suami saya bilang enak, nambah makannya, atau pengen dimasakin sesuatu. Rasanya tuh saya dibutuhkan gitu. Meskipun suami saya nggak pernah nuntut ini itu seperti yang saya katakan tadi, tapi ada rasa yang lebih dari bahagia ketika tahu orang yang kita sayangi dan menyayangi kita tuh butuh kita. Dulu, salah satu sahabat saya pernah bilang, "Aku nggak terlau obsesi sih nantinya jadi wanita yang karirnya sukses banget. Aku lebih pengen jadi wanita yang selalu dibutuhkan di dalam keluarga." Ah, saya baru paham ini setelah saya menikah. Waktu itu boro-boro saya paham. Pokoknya karir, karir, karir! :D Dan sahabat saya itu, saya yakin, dia selalu dibutuhkan di dalam keluarganya. She's adorable. :* 

Selain kepuasan batin, ternyata memasak sendiri itu jauuuuhhh lebih hemat guys. Karena dua tahun pertama kami disambi dengan kuliah, alhasil kami lebih sering jajan daripada makan di rumah. Awalnya kerasa biasa aja, dan menganggapnya biasa aja kalau sekali makan minimal Rp 30.000,-. Atau kalau pas pengen yang nggak biasa ya sekali makan Rp 70.000,- bahkan lebih. Belum kalau makan sehari tiga kali. Belum kalau pengen ngemil. Belum kalau ada agenda nongkrong sama teman-teman. Belum belanja kebutuhan yang lain. Tapi waktu itu kami menganggapnya wajar saja, kayaknya orang-orang pada begitu juga. Dan kami juga tak kuasa karena sedang S2. Hingga akhirnya kami lulus master dan saya konsultasi sama sahabat saya tentang financial keluarga. Dia ngasih tau banyak, rinciiii bangeeettt pengeluaran buat ini itu, semua udah diatur anggarannya. Ini berapa persen, itu berapa persen. Saya geleng-geleng, gokil bener nih anak! Terus saya tanya, "Kamu masak terus setiap hari?". Dia bilang, "Iya. Kecuali pas hamil 3 bulan pertama, kadang masih mual jadi nggak masak. Tapi kalau enak badan ya masak. Bisa bengkak e anggarannya kalau makan di luar terus." Saya makin geleng-geleng, baja banget nih anak! Hingga akhirnya saya sepakat sama suami buat mulai ngurangin makan di luar. Kalau bisa ya weekend aja gitu makan di luar. Dan, amazing! Kami menghemat jauuuuhhh lebih banyaaakkk. Karena sekali masak cuma habis Rp 15.000, atau kalau sama daging ya Rp 30.000,- dan bisa buat seharian men! Dan selain itu, kami jadi nggak gampang pengen jajan ini itu. Nggak gampang laper mata, karena selalu ingat kalau masih ada makanan di rumah.  Dan eman-eman kalau nggak dimakan. Ahhh, so much thanks buat sahabat saya itu. Semoga keluarganya selalu diberkahi. Aamiin. :*


Hemat

Jadi, pandangan saya tentang kemampuan memasak bagi seorang isteri berubah. Saya nggak bilang isteri harus pinter masak sih ya, tapi saya cenderung memahami manfaat-manfaat kalau isteri bisa masak. Iya, bisa masak, nggak harus jago. Hehee.. Dan kata teman saya tentang kunci laki-laki itu di perutnya, saya mulai setuju. Meskipun ada kunci-kunci yang lain juga tentunya. Suami mah kuncinya dilayani. Titik. :p Untuk saya pribadi, saya akui saya belum bisa banyak membantu finansial kami, I rely on him untuk masalah itu. Hihiii.. Jadi, saya merasa memasak adalah salah satu kontribusi saya untuk keluarga kami. Iya, untuk mengelola hasil yang sudah dia amanahkan kepada saya sebaik mungkin. Jadi, ketika saya sekarang pas nggak bisa masak karena terlalu banyak kerjaan lain atau terlalu lelah, rasanya kayak bersalah gitu. Dan itu masih cukup sering. Saya juga masih berproses kok untuk bisa rutin masak dan lebih oke lagi masakannya, kayak teman-teman saya yang master chef itu. Hihiii.. Dan di tulisan ini saya bukan mengatakan bahwa isteri yang nggak masak itu lebih buruk daripada yang masak terus. Nope! Itu semua tergantung kebutuhan dan kesepakatan antar suami isteri. Tapi buat saya, meskipun suami saya nggak menuntut saya buat masak, tapi ketika saya bisa masak buat suami itu sebuah kepuasan batin untuk saya pribadi. Jadi, isteri bisa masak itu bagus, nggak bisa juga nggak apa-apa asal saling pengertian serta tahu hak dan kewajiban masing-masing. Jadi half-stance ya saya? Ya, memang hidup itu tidak selalu hitam dan putih, kadang berada di zona abu-abu itu perlu.

Makasiiih yaa udah mampir di blog saya. Sampai jumpa di postingan-postingan berikutnya. :D


Mita Royya


*Ditulis sambil nungguin cucian muter

___________________________________________________________________________________
Gambar dari blog.tokopedia.com dan learnvest.com

You May Also Like

8 comments

  1. Setuju Mbak! Masak skill memang penting (nggak harus jago lho ya :D). Yaa walopun cuma masak tumis kangkung, nggak keasinan aja udah sujud syukur *wkwkwkwk*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aaaakkk.. Dinaaaa, surprisingly you're here in my blog.. Uuuuu 😘😘😘
      Hihihii, iya din.. Betuuull, bisa & mau masak itu sangat membantu di dalam rumah tangga ya.. Demi terciptanya keluarga bahagia sejahtera ya din pastinya.. Hihihii.. 😄😁😁

      Delete
  2. Ciye ciyehhhh mita ini... syukkakkk tulisannya... ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahihihii.. Makasiiih buundd.. 😘😘😘

      Delete
  3. wehhh curhat nih cinn, q baru benar-benar bisa menghayati dunia masak memasak ini setelah tahun kelima pernikahan dan punya dua anak ciin. Dulu sering banget beli diluar and jarang masak.

    Haha ya itu tadi kok rasanya seneng yah kalau keluarga suka sama masakan kita, diapresiasi sama suami dan anak itu rasaanyaaa selangit apalagi ditambah kecupan dari si mungil sambil bilang "Mak baunya harum bangettt, mak enak banget masakannya, makasih yaa! Kiss...
    whoo langsung deh semangat bikin-bikin lagi.

    *Oya Q beli oven 5 tahun yang lalu baru terpakai baru-baru ini wkkkk parah banget yak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weehhh..ternyataaa ya mbaakk.. >,<
      Kirain rumah tangga orang-orang udah langsung perfect gitu sejak tahun pertama..yang masak tiap hari lah, selalu bangun jam 4 dan langsung masak gt..wkwkwk..
      Q juga masih jlong jling masaknya mbak..tapi kalau pas bener2 selo ya q usahakan masak..at least masak nasi mbak..xixixi

      Iya mbak, perasaan bahagia karena keluarga suka masakan kita itu yang bikin jadi selalu pengen masak..hihiii..Tapi masak nggak masak, semoga selalu bahagia keluarga kita ya mbak..Aamiin.. :) :*
      Makasiiih mbak intan udah mampir & ninggalin komen bahkan di dini hari..hihiii :*

      Delete
    2. Whattss bangun jam 4 buat masakk?hahaha q entah brp tahun lg br bs gt wkkk

      Delete
    3. Hahhaa.. Some of my friends do it mbak.. Q makannya amazed bangeettt (dan seketika merasa gagal mjd isteri ideal).. Hahaha.. Q jam 4 msh bermesraan dg selimut mbak.. Wkwkwk 😆😆

      Delete