Belajar dari Engineer (Part 2)

by - December 03, 2016


What I've been Learning as an Engineer's Wife

Hallo.. Terimakasih untuk yang sudah baca Belajar dari Engineer (Part 1). Dan terimakasih dobel dobel untuk kalian yang sekarang sedang melanjutkan ke Part 2 ini. :D So much thanks ya :) :*
Well, sebelum kita lanjutin untuk belajar hal-hal positif dari engineer, ada yang baru di tampilan blog saya. Semoga suka ya. Hihiii.. Tapi itu juga belum permanen sih, masih mencari jati diri blog nih. Hehee.. Saya masih labil juga ternyata.. :p
Ya sudah, tanpa berlama-lama, yuk langsung kita lanjutin hal-hal positif apa lagi yang bisa kita pelajari dari engineer? Cekidot!!!

4. Kerja keras dan organized

Kayaknya kalau yang satu ini udah jadi rahasia umum ya. Pasti kita sering denger kalau programmer itu cuma tidur 3-4 jam atau bahkan kadang nggak tidur buat nyelesaiin kerjaannya. It happens to my husband too. Dan itu sering terjadi apalagi menjelang lomba atau pameran atau deadline (ya iyalah). Tapi mereka bukan orang yang bisa wayangan (SKS) gitu karena memang nggak mungkin. Hehee.. Biasanya suami saya dan tim nya kalau persiapan lomba atau pameran itu udah mulai minimal sejak sebulan sebelumnya. Bahkan kalau project nya gede bisa 6 bulan gitu. Sangar ya! Dan ini pelajaran banget buat saya.

Well, I had bad time management. And it caused horrible drama. Waktu itu saya apply beasiswa (bukan LPDP :p), dan sudah lolos tahap 1. Tahap berikutnya adalah upload berkas dan essay gitu. Anggap saja deadline uploadnya hari Senin, dan hari itu hari Senin. Saya mikir santai aja, masih bisa upload sampai jam 00.00 kan? Ya udah saya kuliah dulu. Ada satu essay yang masih setengah jadi. Saya rencananya bolos kuliah jam ke dua terus ke perpus nyelesaiin essay. Sebelum itu, di kelas ada teman saya yang nanya "Kamu udah upload Mit? Maksimal jam 5 sore kan?" Jedeeeerrrr.. Kalang kabut saya. Essay saya selsaiin seadanya. Terus pulang ke rumah. Belum scan beberapa berkas. Singkatnya, sekitar jam 4 sore saya sudah siap upload. Udah agak pede tuh. Eeeeeeee ternyataaaa, semua file yang saya scan kegedean dan nggak bisa diupload! Dan saya nggak tau cara ngompres file. Sempurna!!! Saya coba googling cara ngompres file, sampai ngompres file secara online. It took loooooong time karena harus ngompres satu-satu dan koneksinya bikin ubun-ubun mendidih. :( Akhirnya jam 16.40. Saya kocar-kacir. Udah nggak bisa nahan emosi dan ketakutan. Nangis lah saya! Lah? Hahahaa.. Iya, itu cara melepaskan emosi terbaik. :p Saya nelpon suami yang masih di kantor. Sambil nangis lah tentunya. Akhirnya dia pulang. Klik, klik, klik akhirnya udah beres semua file dikompres. Jidat saya nggak sih. :p Jam 5 kurang 3 menit kalau nggak salah, SEND! :D Sudah legaaa.

Wait, drama ternyata nggak cukup sampai di sini. Iseng-iseng saya cek lagi file yang saya upload. Ternyataaaa, ada file yang salah upload! Mampus! Udah jam 5 lebih dong tentunya. Saya panik lagi. Mau nangis lagi. Ya udah, dengan penuh doa saya RALAT file yang saya kirim tadi. Iya, emailnya judulnya RALAT gitu dengan beribu-ribu maaf di badan emailnya. Hallooooo??? Dipikir pihak pemberi beasiswa selo banget gitu buat ngulang download email yang baru. Hahahaa.. Emailnya dibales sih "Terimakasih Anda telah mengupload bla bla bla" disertai tanggal pengumuman yang lolos seleksi tahap berikutnya. Saya agak tenang tapi juga tetep kepikiran. Hingga akhirnya hari pengumuman tiba. Daaaannn, hasil memang tak pernah menghianati usaha. Saya NGGAK LOLOS lah! Ya kali Tuhan mau ngasih kesempatan yang lebih tinggi untuk orang yang usahanya nggak maksimal di fase sebelumnya. -_- Nggak adil dong buat yang udah maksimal banget ngerjainnya dari awal. Dan di titik itu saya inget apa yang suami saya pernah bilang, "kesempatan itu datang pada orang yang siap". Dan yes, saya bukan orang yang siap kala itu. Dua teman saya lolos ke tahap berikutnya. Setelah saya baca essay salah satu dari mereka, memang much better dari yang saya tulis. Hahaa.. Di titik itu saya merasa hidup ini terlalu adil.. :p

Waktu adalah...
Sekarang saya berusaha nggak mepet-mepet lagi untuk segala hal. Bahkan untuk hal sepele seperti persiapan mau kondangan saja saya mulai belajar berbenah, lebih efektif dan efisien waktu. Iya, hanya berdasarkan persiapan kondangan yang lama saja suami saya menilai bahwa time management saya masih belum cukup baik. Ya, saya harus memperbaiki diri. Pelajaran tentang beasiswa itu terlalu menyakitkan untuk tidak diambil hikmahnya.

5. Simple

Ini hal positif terakhir yang ingin saya bagi yang saya pelajari dari engineer. Sebenarnya masih banyak hal positif yang lain. Tapi, nulis 5 hal positif aja udah sepanjang ini. Hohoo..

Engineer itu S.I.M.P.L.E! Iya, simple di semua hal. Yang paling keliatan adalah simple di urusan pakaian. Iya, iya, suami saya cowok jadi wajar kalau dandannya lebih simple dari saya. Eits, jangan buru-buru menyimpulkan. Saya punya kok beberapa teman cowok yang ribet dandannya. Bahkan ada juga yang lebih ribet dari cewek. :D Nggak salah sih ya. Itu kan preferensi masing-masing orang dan katanya fashion itu ekspresi dari diri seseorang kan. Mungkin jadi ada yang naik darah dengan mbatin "Jadi, menurut kamu kalau orang yang dandannya ribet itu kepribadiannya dan kehidupannya juga ribet gitu?" Eh, saya nggak bilang gitu lho ya. :p Saya juga termasuk yang ribet kok dandannya. Lamaaaa pula. Tapi memang tidak bisa saya pungkiri kalau diri saya memang lebih ribet dibanding suami, dalam hal apapun. Hehee.. Mungkin ada yang protes lagi, "Itu suami mbak aja kali? Engineer yang lain nggak gitu kali?" Saya punya dua jawaban. Pertama, saya juga kenal beberapa teman engineer suami saya, cowok cewek. Dan mereka memang nggak seribet saya. Atau nggak seribet teman-teman saya yang cowok yang saya sebutin tadi. Kedua, Mark Zuckerberg juga simple dalam urusan fashion. :p

Mark Zuckerberg dengan kaos abu-abu andalannya
Nah iya, kebanyakan dari mereka memang simple untuk urusan fashion. Terutama fashion yang dipakai untuk berkarya atau kerja. Karena biar siap-siapnya cepet, nggak nguras energi dan pikiran buat mikirin hari ini mau pakai baju apa, dan justru bisa menggunakan energi tersebut untuk langsung berkarya. Yang penting nyaman. Mungkin ada beberapa yang kurang suka dengan cara seperti ini. Boring lah, nggak fashionable lah, nggak up to date lah dan lain-lain. Di satu sisi memang benar sih kalau cara dandannya gitu-gitu mulu jadi bosen, terutama buat orang-orang yang memang suka ini itu ya. Atau orang-orang yang fashionista bangeeetttt. (Btw, ini nggak berlaku buat selebritis ye, atau beauty blogger, itu tuntutan pekerjaan mereka. :D) Meskipun nggak dipungkiri juga kalau kadang-kadang ribet juga ketika kita perfeksionis dalam urusan dandan. Hehee.. Apalagi kalau ngerasa nggak matching, saltum, kurang rapi, kurang kekinian, jadi kelihatan gendut, kucel dan masih buanyaaak lagi. Kok tau sih? Iyalah, itu sebagian deskripsi diri saya. Hahaa..

Nah, akhirnya saya mau nggak mau harus setuju dengan ide simple fashion ini. Dan beneran lho, kalo kita lebih simple dalam urusan dandan, pikiran kita bisa kita salurkan lebih banyak untuk berkarya. Bayangin aja waktu sekitar 5-10 menit yang kita pakai buat mantengin isi lemari ditambah oles ini itu, kalau ditotal mungkin bisa 30 menit ya. Padahal 30 menit itu bisa aja kita pakai buat sarapan atau bahkan berangkat kerja lebih awal. Jadi pas sampai kantor nggak keburu-buru. Nggak uring-uringan. Bisa mikirin ide-ide fresh karena pikiran kita tenang. Nggak ada barang yang ketinggalan. Dan efeknya kinerja kita bisa jadi lebih optimal. Lihat aja Mark Zuckerberg, perusahaannya makin hari makin kece kan? Mungkin ketika orang-orang lain masih bersolek di depan cermin, dia sudah di depan laptop baca berita teknologi, atau bahkan dia sudah mulai mengotak-atik ide yang dia endapkan semalaman. Udah kalah beberapa langkah kan?

Nah, urusan dandan lama nan ribet ini juga biasa terjadi kalau mau kondangan ya. Iya, saya selalu punya masalah ini. Dan suami saya selalu berusaha sabar untuk ini. Tapi kalau udah kelewat batas ya nanti ada drama di dalam mobil, dan cair kembali ketika udah nyruput es dawet di kondangan. Hahaa.. Suami saya selalu bilang, SELALU. "Dek, kalau kita mau kondangan itu intinya adalah kita ketemu sama pengantinnya atau sama yang punya gawe untuk mengucapkan selamat dan memberikan doa. Dan sebisa mungkin datengnya jangan di akhir-akhir. Itu baru namanya menghargai undangan. Jadi urusan dandan itu bukan hal utama yang akan diperhatikan oleh keluarga pengantin. They don't even care! :p Yang penting pakaian kita rapi aja untuk menunjukkan rasa menghargai sama yang punya gawe. Nggak perlu berlebihan. Kan berlebihan juga nggak boleh dalam agama." Lagi-lagi saya cuma bisa bilang "Iya sih." dan tertunduk lesu. Hahhaa..
Meskipun ego saya teriak-teriak pengen dandan tapi hati saya tunduk pada nasihat suami yang memang masuk akal tersebut. Iya, saya setuju bahwa dalam hidup ini harus ada namanya prioritas. You put your time where your priority is. Dan di banyak situasi, dandan berlebihan seharusnya bukan prioritas. :D

Less is more :)
Well, saya bukan menganggap orang yang nggak simple itu lebih buruk dibanding yang simple. Saya juga nggak menganggap bahwa semua yang ada dalam diri engineer itu yang terbaik. Saya cuma mengajak kita sama-sama belajar hal-hal baik dari suatu profesi tertentu, apapun itu. Yang saya tulis ini kebetulan tentang engineer, karena saya paling dekat dengan orang yang memiliki profesi itu. Tapi sekali lagi saya bukan menganggap bahwa profesi engineer adalah yang terbaik di muka bumi. Karena sesungguhnya profesi terbaik di muka bumi adalah menjadi sebaik-baiknya diri kita dalam profesi apapun yang kita geluti agar bermanfaat untuk seluruh makhluk di bumi.

Makasih yaaa udah mampir.. :) Sampai jumpa di postingan-postingan berikutnya.. :D



*tulisan ini diselesaikan bersama dengan rintik hujan :)


Mitaroyya


__________________
Catatan: gambar dari google.co.id dan telegraph.co.uk


You May Also Like

0 comments