Galau Level 2: S2 atau Menikah?

by - November 17, 2016

COS SOMETIMES, ALL YOU NEED TO DO IS BELIEVE



Holaa.. Lama tak bersua ya.. Giliran nulis, tulisannya tentang kegalauan nih. Hihii...

OK. Sebelum mulai, saya kasih warning dulu ya. Tulisan ini mengandung konten yang mungkin berbahaya untuk perasaan Anda. Jauhkan benda-benda tajam dari sekeliling Anda. Serta siapkan benda-benda yang dapat menyelamatkan Anda seperti inhaler, tisu, atau bantal. :D
Hehee... Nggak sih. Tulisan ini nggak seseram itu. Meskipun tentang kegalauan, tapi saya nggak akan ngajak kalian untuk semakin galau.

Well, mungkin sebagian dari kalian pernah merasakan galau, sebut saja galau Level 1. :p Galau Level 1 ini mungkin pernah kalian rasakan ketika SMA atau awal-awal kuliah S1 dimana kalian galau milih pacaran atau sekolah, ngejar gebetan nggak dapet-dapet, ditikung, diputusin, diselingkuhin, dan lain-lainnya. OK, semoga kalian sudah selesai dengan galau Level 1 kalian. Dan kalau kalian sekarang berada dalam kondisi galau untuk memutuskan mau lanjut studi atau lanjut membina rumah tangga, welcome to Galau Level 2. :D

Kenapa saya nulis ini sekarang? Kenapa nggak pas jaman dulu di titik saya benar-benar galau memutuskan pilihan ini? Pertama, karena saya dulu belum ngeblog. :p Kedua, karena saya sekarang merasa sudah cukup stabil untuk mengungkapkannya. Halaahh..
Ya, Alhamdulillah saya dan suami sudah lulus studi Master. Jadi emosi kami saya sudah lebih stabil untuk mengungkapkan segalanya sekarang.

Lulus master bareng suami

Well, kenapa tiba-tiba saya pengen ngomongin ini. Karena memang tidak bisa saya pungkiri ketika harus mengambil keputusan antara lanjut S2 atau menikah memang bukan hal yang mudah.  Saya juga menemukan kegalauan yang sama dalam status-status FB beberapa teman atau adik tingkat. Ya, kebanyakan orang, terutama wanita yang sudah memiliki calon pendamping hidup rasanya akan mengalami galau Level 2 ini. Apalagi setelah berhasil menyelesaikan S1 yang umunya dianggap sebagai gerbang studi terakhir, biasanya orang akan berpikir tentang bekerja secepatnya lalu menikah. Atau sebagian orang yang sudah mampu secara materi, bahkan sebelum dia lulus S1 (entah keturunan bangsawan borjuis atau sudah sambil kerja saat kuliah S1) akan segera menyelesaikan studinya lalu nikah. Sebagian orang mengklaim bahwa trend menikah setelah lulus S1 ini sebagai pengaruh budaya di Indonesia dimana kebanyakan masyarakatnya menikah di usia 20-an bahkan awal 20-an. Karena budaya seperti ini tidak ditemui di negara Barat sekarang ini. Tapi sebagian yang lain berpendapat bahwa di usia 20-an, baik laki-laki maupun perempuan tak bisa dipungkiri 
memang gelisah mendambakan penentram hati. Ceilaahhh.. :D Buktinya, banyak kan pasangan muda-mudi di usia-usia ini? Hehee... Maaf ya, saya nggak sempat riset dari sudut pandang psikologi. :d
Entah setuju dengan pendapat yang mana, intinya di usia 20-an kebanyakan orang-orang pengen punya pasangan yang bisa diajak ngapain aja, kemana aja, tanpa ditelponin orang tua atau singkatnya adalah pasangan halal. :D

Sayangnya tidak semua keinginan itu dapat terlaksana dengan mulus. Karena bagaimanapun, banyak orang yang telah menyelesaikan S1 nya justru semakin jatuh cinta dengan ilmu yang dipelajari, sehingga merasa bahwa ia harus melanjutkan studinya. Sebagian yang lain, ingin melanjutkan studi demi meraih cita-cita yang mensyaratkan minimal gelar Master untuk mencapainya, jadi dosen misalnya. Saya pribadi, termasuk yang mengalami hal ini. Jadilah saya galau antara mau lanjut S2 atau lanjut membina rumah tangga. Aseeeekkk.. :D

Sebelum memutuskan salah satunya, waktu itu saya sudah sangat mantap untuk memilih S2. Iyalah, saya dulu termasuk orang yang career oriented. Pokonya studi saya harus bagus. Setelah lulus harus langsung kerja. Pay my own bills. Build my own castle. Hahaha... Kurang lebih begitu. Hingga pada suatu hari, calon saya ngajak nikah dan sudah menyebutkan bulan apa mau lamaran. WHAT???
Di satu sisi, saya deg-degan luar biasa. Pengen senyum selebar-lebarnya tapi tak kuasa. Dan yang ada cuma senyum tertahan yang justru membuat cuping hidung saya kembang kempis. :D

Meskipun dalam hati saya sangat yakin dengan ajakan menikah dari sang calon, tapi di sisi lain ego saya yang sangat career oriented ingin berontak. "Kamu harus S2 dulu. Kalau bisa di luar negeri. Kerja mapan. Punya tabungan sekian, punya ini itu, beliin ortu ini itu, baru nikah. Biar resepsi dan tamu-tamunya kece badai. Biar enak pas udah nikah nanti. Nggak ngerepotin siapapun." Begitulah kira-kira suara batin saya. Hihiii... Saya tidak menyebut diri saya feminis atau semacamya. Intinya saya cuma pengen berdikari saja. Tapi, sebelum saya menyatakan keputusan tersebut, saya juga sempat bertanya pada teman-teman yang sudah lebih dulu nikah, baik cowok maupun cewek. Dan kayaknya saya salah deh nanya sama mereka :p, karena salah satu teman saya (cowok) malah bilang, "Kalau ada lelaki baik-baik ngajak kamu nikah, dan kamu serta keluargamu udah sreg, jangan ditunda apalagi ditolak. Dia nggak akan minta untuk kedua kalinya." Dueeeerrr, deder dueerrr... Petir menyambar, bumi gonjang-ganjing. Tambah galau lah saya! Waktu itu, saya belum berani bilang ke orang tua, karena memang keputusan saya belum jelas. Akhirnya, saya meminta petunjuk Yang Maha Cinta. You know, Dia selalu punya jawaban yang indah. :)

Beberapa hari kemudian, saya sampaikan keputusan saya pada sang calon. Meskipun saya tahu menikah itu baik, sunnah, dan lain-lain, dan bahkan meskipun saya sudah meminta petunjuk dari-Nya, tetap saja ego saya sulit ditundukkan. Saya tetap kekeh pada keputusan awal saya. Dasar!

Saya katakan pada sang calon, "Gimana kalau aku S2 dulu? Habis lulus langsung nikah."

Jawaban dia, "Nggak usah nunggu S2."

Saya coba kasih diskon, "Ya udah, aku masuk S2 aja dulu deh. Dapet 1 semester gitu. Apa setengah semester juga nggak apa-apa. Habis itu kita nikah. Ya paling nggak aku S2 dulu gitu. Ya, ya, ya?"

Jawaban dia, "Kita nikah dulu, nanti S2 bareng-bareng."

Saya mulai melunak, tapi tetap masih ingin berontak, "Kalau kita nikah dulu, terus S2 ku siapa yang bayarin? Kan nggak mungkin minta ke ortu ku lagi? Hayoo..."

Jawaban dia seperti biasanya, tenang tapi pasti, "Aku yang bayarin."

Glek! Saya bisa apa??? Kacau dan melting paraaahhh... Aaaahhhhh, Tuhan memang Maha Romantis. Dia kirimkan satu paket lengkap buat saya. :D Ya, meskipun impian saya untuk S2 di luar negeri belum terkabul (karena sang calon tidak bisa meninggalkan pekerjaannya di Jogja begitu saja), tapi saya justru dapat paket komplit yang tidak saya duga sebelumnya.

Akhirnya, setelah semua jelas dan yakin, kami sama-sama menyampaikan niat ini ke orang tua. Dan kami kaget, karena restu mereka mengalir begitu saja. Tuhan memang suka ngasih surprise. :)) Dan akhirnya semua persiapan berjalan dengan lancar dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja. Kami lamaran bulan Februari, Mei sudah menikah. Hihiiii... Meskipun ngos-ngosan dan stress karena kami ngurus semua persiapannya sendiri, minim informasi karena teman kami yang sudah menikah baru segelintir saja, berusaha budgeting dengan sebaik-baiknya karena tabungan kami masih seadanya, kami berdua sama-sama sambil ngantor setiap hari pula, tapi Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar jaya hingga akhirnya kami SAH! :) :*

SAH!

OK, let me say, ketika kalian galau antara milih S2 atau nikah, kalian nggak harus memilih salah satunya kok. You can do both together. Dengan catatan kedua pilihannya memang sudah siap. Calonnya sudah ada dan sudah siap lahir batin. S2 nya juga sudah di depan mata, tinggal melangkah. :) Dan yang paling penting, calon suami-istri harus sama-sama yakin kalau langkah yang kalian ambil akan membawa banyak kebaikan dan keberkahan. Teman saya pernah bilang, menikah itu bukan tentang siap ini itu, tapi tentang berani atau tidak. Dan saya setuju. Kalau dipikir-pikir, it seemed like impossible for both of us to study master degree together (and graduated together). It even seemed more impossible for him to fund our master degree and also our daily needs. But see, God eases everything. :) Kalau kata ustad YM sih, "Yang penting ente yakin." Heheheee...

Well, I'll not say that running both marriage life and master degree is easy. IT IS NOT! Akan ada peluh keringat, air mata, keluhan, rasa sakit, amarah, pergi ke dokter berkali-kali, mata bengkak, kurang tidur, tapi tentu saja ada lebih banyak senyuman, tawa, dekapan hangat, pijatan yang menyembuhkan, semangat, doa, bahu ternyaman untuk bersandar, belaian, candaan, kasih sayang, dan lebih banyak lagi harapan karena kami berjalan bersama, beriringan. :)

Finally, saya cuma mau bilang buat kalian yang sedang berada dalam kebimbangan galau Level 2, sebenarnya keputusan apapun yang kalian ambil sama-sama memiliki konsekuensi kok. Memilih salah satu ada konsekuensinya, begitupun jika memilih keduanya atau tidak memilih sama sekali. Karena abstain pun termasuk pilihan. Tapi setelah saya menjalaninya, saya akan meyakinkan kalian bahwa menjalani keduanya mengajarkan banyak hal dalam hidup saya, mendewasakan saya. Bahkan jika saya punya mesin waktu dan bisa mengulang pilihan saya, saya akan tetap memilih jalan yang sama. Karena sungguh, tidak ada yang lebih menguatkan daripada berjuang bersama. :)

Bon courage! Semoga setelah ini sudah tidak galau Level 2 lagi ya. :)

Btw, lalu seperti apa lika-liku marriage life kami yang nyambi college life? Tunggu di postingan berikutnya ya.. ^^




*Masih ditulis di kampus, meskipun sudah lulus :D

You May Also Like

4 comments

  1. aaak, melting bacanya :)

    Kalau kami gantian, aku duluan yang dsuruh lanjut lalu ganti dia kalau aku udah selesai. Biar ga stress bareng-bareng, hahaha. Alhamdulillah ya dapat pasangan yang benar-benar paham dan mendukung passion kita. Semangaattt teruss saaay, baca ini jadi seperti dikasih suntikan semangat.

    Fighting!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihiiii.. Makasiiih mbaak setia komen di blog q.. Xixixi.. 😘😘😘
      Oo gt ya mbak.. Kalo kami malah ga kepikiran gantian e kuliahnya.. Hahaa.. Krn mungkin kami nikahnya masih cukup muda ya jadinya masih menggebu2 buat kuliah.. Memang bener sih stress bareng, tp enaknya jd saling paham kondisinya.. Jadi malah saling menyemangati.. Hehee..
      Makasiih mbaak, semangat juga buat mbak intan & keluarga.. 😇😘

      Delete
  2. Dari sekian banyak tulisan Menikah atau S2 yang ini yang paling saya suka. Haha. Kenapa? Karena endingnya enak. Dapat dua-duanya.

    Harus saya akui mbak dan suami lebih berhasil dari saya. Soalnya baru saya yang lanjut S2, istri belum :)

    Kalau rajin baca juga kisah kita mbak.
    http://www.habibasyrafy.com/2016/11/rezeki-berlimpah-setelah-menikah.html

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Alhamdulillah.. Terimakasih banyak apresiasinya.. :)

      Semoga isterinya juga segera dimudahkan utk S2.. Aamiin..
      InsyaAllah nanti sya mampir ke blognya.. :)

      Delete