Belajar dari Engineer (Part 1)

by - November 29, 2016

What I've been Learning as an Engineer's Wife


Dari judulnya saja, pasti udah pada tau kalau saya mau banyak ngomongin tentang engineer. Dan mau ngajak pembaca blog saya untuk belajar dari engineer. Eits, bukan belajar bikin robot, atau mrogram, atau bikin rangkaian elektronis kok. Di tulisan ini saya mau berbagi tentang hal-hal yang saya pelajari dari suami saya yang merupakan seorang engineer. Tsaaaahhh.. :D

Nah, biasanya apa yang terbayang ketika denger kata engineer? Laki-laki, manly, cool, nggak takut kotor (atau bahkan malah kotor :p), kerja keras, santai tapi pinter, hingga ke kabel, pemrograman, komputer, elektro, mesin, teknik, sipil, dan masih banyak lagi. Iya, pokoknya kalau kita denger kata engineer atau kalau jaman dulu lebih dikenal dengan insinyur (keren ya) itu biasanya diidentikan dengan profesi yang cowok banget. Manly gitu deh. Soalnya nggak bisa dipungkiri kalau memang cuma segelintir kaum hawa yang menjalani profesi ini. Dan akhir-akhir ini setelah demam teknologi merambah ke berbagai penjuru dunia, profesi engineer semakin dianggap sebagai profesi yang keren dan menjanjikan, termasuk di Indonesia. Soalnya orang-orang jadi bayangin engineer macam Bill Gates, the late Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Andrew Darwis, Achmad Zaky atau Benny Fajarai kali ya? Hehee.. Selain menjadi orang-orang yang sukses yang beberapa diantara mereka masuk ke dalam majalah Forbes, mereka juga orang-orang yang menginspirasi.

Engineers sukses dan menginspirasi

Saya pernah baca biografi singkatnya Bill Gates. Diceritakan kalau dia merintis semuanya dari nol, dia cuma tidur 3-4 jam kalau nggak salah setiap harinya. Bahkan saking cintanya dia sama kerjaan pemrogramannya itu, dia sampai rela keluar dari Harvard. Kayaknya orang-orang sukses pada begitu ya. Eh, tapi yang DO dari kuliah bukan syarat mutlak lho ya. Hehee.. Intinya sih, dia kerja keras, ulet dan nggak takut tantangan atau nggak takut keluar dari zona aman. Begitu juga kalau baca biografinya Steve Jobs, Mark Zuckerberg, Andrew Darwis, Achmad Zaky ataupun Benny Fajarai. Saya yakin perjuangan mereka disertai kerja keras dan sifat-sifat positif lainnya. Khusus Benny Fajarai, saya pernah ketemu lihat langsung orangnya pas dulu ikut lomba debat di BINUS (iya, doi alumni BINUS). Dia waktu itu ngasih opening speech sebagai president of apa gitu. Kayaknya salah satu organisasi mahasiswa gitu. Speech nya oke punya. Dan auranya emang udah keliatan bakal jadi orang sukses. :D

OK, back to the topic. Kaitannya dengan image engineer, bener nggak sih semua engineer begitu? Pekerja keras, doyan begadang, ulet, nerd, dan sejenisnya? Atau ada yang lainnya? Atau nggak selalu begitu? Nah, di tulisan ini saya pengen cerita tentang hal-hal positif yang saya pelajari sebagai seorang isteri engineer. Cieeeehhh.. Tapi perlu diingat, tulisan saya ini bukan patokan kalau semua engineer pasti seperti itu. Karena 1 sample dibanding milyaran engineer di muka bumi ini sangat jelas bagai kuman di pelupuk mata. :D Jadi intinya jangan protes kalau ada satu, dua engineer yang beda dari yang saya ceritain ya. Hahahaa.. Tulisan kali ini saya bagi menjadi 2 bagian karena terlalu panjang untuk jadi satu postingan. Hehee..

Mari kita mulai. Saya dan suami sudah menikah selama kurang lebih 2,5 tahun. Dan selama itu pula saya mendalami karakter suami yang berlatar belakang engineer. Ada beberapa hal positif yang saya pelajari dari dia. Yang negatif juga ada sih, tapi biarlah menjadi bahan ejek-ejekan kami berdua saja. Hihii.. Mungkin kalian ada yang bertanya, emang ngaruh ya latar belakang profesi sama kebiasaan dalam kehidupannya? I'll say, ngaruh banget. Karena ketika kita menjalani profesi tertentu, berarti kita ada kecenderungan punya passion ke arah situ. Which means ada karakter kita yang sejalan dengan karakter profesi itu. Aseeeeekkk.. Ilmiah banget kan analisisnya?! :p So, here they are.

1. Romantisnya unik

Biasanya romantis sama pasangan itu dengan ngasih bunga, dinner romantis dan semacamnya ya. Tapi kalau engineer romantisnya beda. Meskipun suami saya sebenarnya lumayan jago bikin puisi, (seriously, he wrote many poems and love letters for me <3), tapi ada bentuk romantis lain yang khas dari engineer. Aseeekk. Kayak gini nih.

Marry me? Yes, Yes, Yes
Saya benar-benar pernah mengalami ini. Sebelum dia melamar saya secara resmi, he sent this pic to me. Rasanyaaaa, mengguncang duniaaa! Senyum-senyum sendiri pas nerima pesan ini. Kayaknya dia tau cara bikin saya tak bisa mengelak ya. Hihii.. Saya salting sendiri mau ngetik jawaban a, b atau c. Ya sok jual mahal lah ya pakai salting segala. Tapi tetap saja gagal, lha wong pilihannya "menjebak" semua. Hihii.. Tapi adek bersedia kok terjebak cinta abang selamanya.. :D

Nah, selain pernah dilamar secara tidak resmi :p dengan pesan persis kayak gambar itu, saya juga pernah dikasih kado handmade yang dia bikin sendiri dan menurut saya itu beyond my expectation. Saya pernah dikasih lampu tidur yang dibuat dari akrilik (bahan mirip kaca bening) dengan papan persegi di tengahnya untuk nulis ucapan dari suami (waktu itu belum jadi suami tapi :p) buat saya. Terus lampunya kelap-kelip gitu. It's sooooo beautiful. Cewek mana yang nggak melting dikasih kado handmade yang unik dan tak terbayangkan kayak gitu. :D

Mungkin ada yang bertanya-tanya. Yang kayak gitu suami kamu aja kali? Temen-temennya yang sesama engineer belum tentu kayak gitu juga kali? Bisa bener bisa enggak. Tapi tunggu dulu. Suami saya juga kadang nyeritain temen-temennya ke saya kok. Terlebih pas sebelum mereka nikah. Kalau udah nikah kan udah nggak boleh berbagi cerita tentang pasangannya ke orang lain ya. Hehee.. Dan, most of them kurang lebih sama lah. Mereka jarang banget romantis-romantisan mainstream kayak kebanyakan di ftv-ftv itu.

Jadi, pelajaran pertama yang saya pelajari dari seorang engineer adalah bahwa standar romantisme itu tidak selalu sama di muka bumi ini. Banyak cara untuk mengungkapkannya. Saya juga nggak menutup kemungkinan kalau selain engineer juga punya gaya romantisme yang berbeda-beda terhadap pasangannya dan nggak mainstream. Itu bagus banget dan justru harus kita apresiasi lebih dong ya. Bukan menuntut harus dibeliin bunga, diajak dinner romantis, dibacain puisi di depan temen-temennya atau yang lain-lain yang serupa dengan kebanyakan di ftv. Hehee.. Karena sebenarnya dia justru menjadi dirinya sendiri ketika itu dan berupaya menampilkan yang terbaik dari dirinya untuk pasangannya (pasangan halal harusnya :p). Aseeekkk. :D

2. Great teamwork

Untuk hal ini, saya harus ngasih keempat jempol saya dan bahkan kalau perlu saya pinjem jempol-jempol orang deh. :D Kenapa begitu? OK, sekali lagi mungkin ini kurang representatif ya. Karena memang saya tidak membandingkan dengan banyak profesi yang lain. Saya membandingkan suami saya at least dengan saya dan orang-orang yang pernah satu tim dengan saya. Jadi, engineer itu teamwork nya kuat bangeeettt (at least dibanding saya dan tim). Nggak ada namanya iri-irian kalau lagi kerja tim. Meskipun ada anggota tim yang kelihatannya cuma leyeh-leyeh nggak ngerjain sesuatu di awal, tapi mereka saling percaya kalau setiap anggota pada akhirnya akan ngerjain job desc masing-masing dengan maksimal. Jadi nggak ada iri-irian, diem-dieman, balas dendam atau yang lain-lain di dalam tim. Ini berlaku bukan hanya buat tugas kuliah, tapi juga ketika mereka ikut kompetisi-kompetisi engineering atau technology gitu misalnya. Dan hasilnya? Hasil tak pernah menghianati usaha. Medali dan piala berhasil mereka persembahkan untuk almamater tercinta. Nggak hanya di tim suami saya, tapi dia cerita kalau semua engineer dari universitas manapun tipenya memang begitu. Tim-tim yang berhasil juara memang biasanya solid.

Suami dan timnya ketika S1

Saya pernah cerita sama suami kalau saya masih kesel kalau ingat anggota tim saya yang kerjanya nggak maksimal tapi dia ikut dapet senengnya. Saya masih sebel bahkan setelah tahun-tahun berlalu. Halah. Tapi komentar suami saya nggak terduga (seperti biasanya). "Kamu nggak perlu sebel-sebel begitu. Dia juga temen kamu. Pasti dia pernah kan bantuin urusan kamu. Kalau memang dia nggak kerja maksimal di tim, ya itu masalah dia. Kamu nggak perlu ngerasa dirugikan atau gimana. Dia sendiri sebenarnya yang rugi. Karena dia nggak menggunakan masa-masa perjuangan kalian untuk mengembangkan dirinya dengan maksimal. Dia kehilangan kesempatan berharga itu. Dan kamu harusnya ngerasa lebih beruntung karena kamu maksimal di masa perjuangan itu, jadi ilmu dan kemampuanmu jadi lebih baik sekarang." Speechless saya! Dan saya cuma bisa bilang "Iya sih".

Jadi, suami saya selalu cerita kalau di dalam timnya, bahkan sampai sekarang ketika dia bekerja bareng engineer yang lain (I know some of his team mates), mereka selalu percaya satu sama lain. Dan nggak musingin orang-orang yang males kerja. Suami saya juga cerita kalau mereka nggak mewajibkan semua orang bekerja dalam waktu yang bersamaan karena karakter orang beda-beda. Yang penting kerjaan dia beres di saat yang dibutuhkan. Padahal kalau saya, misalnya saya lagi ngerjain terus ngelihat ada anggota tim yang leyeh-leyeh saya pasti kesel. Pengennya semua kelihatan kerja. Hehee..

Setelah saya pelajari, prinsip ini melekat pada engineer karena kontribusi masing-masing anggota benar-benar terasa. Misalnya si A bagian bikin design, si B bagian pemrograman X, si C bagian pemrograman Y, si D bagian pemrograman Z, terus si E bagian ngrakit, nah kalau salah satu dari mereka ada yang kerjanya nggak maksimal pasti akan berdampak besar pada keberhasilan produk mereka. Misal yang design males, cuma seadanya, ukurannya nggak bener-bener disesuaiin, ya udah akhirnya nggak bisa dipakai designnya. Terus lagi yang mrogram cuma asal, ya nggak bakalan jalan alatnya. Belum lagi yang bagian ngrakit teledor, asal-asalan, rusak lah alatnya. Kalau nyetak lagi, cost nya bakalan double kan. Tau sendiri harga alat-alat begitu bisa buat beli tempe satu truk. Jadi, kalau ada yang males-malesan, asal-asalan, nggak maksimal, dia bakal kena sendiri batunya. Pas yang lain udah beres, dia harus ngulang lagi kerjaan dia. Males kan? Makannya, diantara mereka udah percaya masing-masing karena udah tau resikonya. Dan semuanya bener-bener serius ngerjainnya. Andai semua orang dengan latar belakang profesi apapun bisa belajar dari (at least) teamwork nya engineer, dan menyadari kalau kontribusinya itu sangat penting di dalam sebuah tim, pasti nggak akan ada lagi males-malesan apalagi iri-irian. Dan hasilnya pun lebih maksimal.

3. Setia kawan

Nah, untuk hal yang satu ini saya juga kagum. Buanyaaakk sekali contoh setia kawan mereka. Meminjam istilah para TNI, jiwa korsa mereka tinggi. Ceilaaahhh.. :D Dan hal ini berlaku untuk semua engineer baik cowok maupun cewek. Sebagai contoh, waktu kami nikah, beberapa teman-teman suami saya sudah banyak yang kerja di luar kota. Tapi beberapa dari mereka yang memang benar-benar tidak bisa hadir, pasti ngirim paket kado buat kami. Padahal mereka juga bukan sahabat yang dekeeet bangeeet gitu sama suami saya. Mereka temen sekelas aja gitu. Tapi mungkin kalau buat engineer itu semua temen kelas udah dianggap sahabat kali ya. Makannya mereka nggak beda-bedain temen satu dan lainnya. Hal ini juga terlihat dari kedekatan mereka ketika reuni dadakan misalnya. Jadi, setelah menikah, suami saya beberapa kali mengajak saya reuni dengan teman-teman S1 nya. Mereka cowok dan cewek. Ketika reuni pertama misalnya saya ketemu sama si A, B, C, D, E. Terus pas reuni kedua saya ketemu A, B, E, F, G. Terus reuni ketiga saya ketemu C, D, H, I, J. Dan seterusnya dengan orang-orang yang beda-beda terus. Tapi uniknya, di setiap reuni dadakan tersebut semuanya berbaur. Yap, berbaur! Meskipun orangnya beda-beda, semua bisa nyambung. Nggak kaku atau kikuk gitu. Mau cowok cewek tetep bisa ketawa dalam lelucon yang sama. Rasanya family bangeeettt.

Salah satu reuni dadakan bareng temen-temen suami

Nah, ini beda banget sama saya yang biasanya reuni dadakan ya cuma sama sahabat-sahabat dekat saja. Dan bakalan canggung atau agak nggak nyambung bahkan kurang nyaman kalau dipaksain reuni sama temen yang nggak terlalu dekat. Hehee.. Sebenarnya nggak ada yang salah dengan kenyamanan apapun yang kita pilih. Cuman, saya kagum aja gitu sama cara mereka temenan. Bisa akrab semua, jadi nggak ada yang musuhan gitu di satu kelas mereka. Atau nggak ada perang dingin gitu antar satu geng dan geng lain. Hahahaa.. :D Tapi, untungnya saya juga sudah pernah ngrasain hal kayak gini karena lingkungan teman-teman S2 saya bisa lebih membaur semuanya dibanding jaman S1. Piiiisssss.. Nggak beda-bedain meskipun tentunya masing-masing orang punya sahabat dekat. Jadi kalau pas reuni dadakan nggak canggung mau ngobrol sama siapa aja. :)

Temen-temen S2 saya sangat solid

Lanjut ya. Contoh lain dari setia kawan engineer adalah ketika ngerjain tugas akhir atau skripsi. Ketika ada teman yang belum selesai skripsinya, pasti dibantuin teman-teman yang lain. Meskipun mereka bukan sahabat dekat. Bahkan, nggak jarang adek tingkat yang sampai nginep berhari-hari di kos atau kontrakan kakak tingkatnya buat minta diajarin atau malah sebaliknya. :p Eits, yang nginep tentu saja bukan yang lawan jenis lah ya. :D Dan mereka itu nggak tanggung-tanggung gitu bantuinnya. Dari mulai mahamin teorinya, cara ngitungnya, sampai bikin alatnya. Beuuhhh, mantap!!! Dan hal ini kayak udah jadi budaya positif gitu diantara mereka. Nggak ada jarak lah antar sesama angkatan bahkan beda angkatan. I witnessed it by myself. Suami saya dulu juga bantuin temennya yang belum selesai skripsinya ketika suami saya udah lulus duluan dibanding teman-temannya yang lain. Selain itu, saya juga lihat sendiri ketika suami saya ngajak saya ke kontrakan temennya buat ngurus alat-alat teknik. Disana ada beberapa adek tingkat yang sedang diajarin ngerjain rumus buat skripsinya gitu. TOP pokoknya!

Nah, lagi-lagi ini beda banget sama saya dan mungkin kebanyakan orang-orang di sekitar saya. Kalau ada temen yang skripsinya belum selesai ya paling kita ngasih motivasi aja gitu ya. Bantuin juga paling ngasih saran, rekomendasi buku atau teori gitu. Eh, tapi ada yang parah juga sih nggak mau bantuin. Misalnya nggak mau bantuin buat ngecek grammar skripsi temennya (skripsi kami pakai Bahasa Inggris) padahal udah mepet waktunya. Dan padahal dia udah kelar nyekripsinya. Bahkan mungkin udah lulus. Duh, bantuin temen seangkatan aja ogah-ogahan ya apalagi bantuin yang beda tingkat? Well, saya akui bahwa kadang saya dulu juga nggak selalu semangat sih ketika ada yang minta dicekin grammar. Tapi ada dosen yang bilang, "Kamu bantuin dia cek grammar ya. Kasian udah mepet yudisium. Biar dia cepet selesai." Di titik itu saya baru sadar kalau saya dianugrahi kemampuan yang sedikit lebih dibanding beberapa teman yang lain. Bahkan kalau sampai dosen minta saya begitu kan berarti saya juga dipercaya. Dan kelebihan yang Tuhan kasih itu memang seharusnya kita pakai buat bantu orang lain dalam kebaikan. Bukan disimpen sendiri sampai jamuran. Hehee.. :D
Percaya deh, selalu ada timbal balik positif dari kebaikan yang kita lakukan. Saya pernah dikasih kue bolu enak gegara bantuin temen ngecek grammar skripsinya. Ya ampuuuunn, saya jadi ketagihan kan! :p

OK, itu 3 hal positif pertama yang saya pelajari dari engineer. Masih ada beberapa hal positif lain tentang engineer yang ingin saya bagi. Lanjut bacanya di Belajar dari Engineer (Part 2) ya. See you there.. :*


Mitaroyya



Catatan:
Gambar diambil dari google.co.id dan dari facebook pribadi kami.

You May Also Like

2 comments

  1. Wahhh speechless yak, baru tau jeroannx anak engineer, keren euy teamworknya! Hahaha jd inget dl pas debat setim sama satu org nyebelin bgt g mw bantu2 cari materi tp dy pngnx jadi 1st speaker..helooww dongkol banget lah wkk. kalau masalah teamwork pas ngerjain tugas sih udah biasa aq jd bumper coz temen2 lain g bs pd bantuin and aku biasa aja mlah seneng jd ad kesempatan belajar lebih.


    Empat jempol buat romantisnya mas suami, uhuk! Suamiq masukx engineer bukan yah, wkaka, biasa aja tuh dia mending beliin bakso drpda beliin bunga wkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihiii.. Iya mbak gila2an kalo teamworknya engineer tu.. Apalagi yg pd suka ikut lomba2 gt.. Weh, suami mb intan engineer jg to.? IT kah mbak.?
      Hahahaa, q jg pernah dongkol mbak sm teammate debat.. Emang nyebelin banget kalo teammate debat ga solid tu.. Hahahaa.. Tp udah jd kenangan manis kok ya kalo skrg.. Hihiii.. Iya, kalo kelompok ngerjain tugas seringnya emang gt mbak.. Tp ad jg beberapa yg sebenarnya bisa tp g mau berusaha lebih gt lho.. *malah curhat.. Hihiii..

      Hehee, makasiiih mbaakkk.. Suami q jg ga pernah beliin bunga kok mbak.. Kan emang tipe romantisnya nggak begitu.. Hehhee..

      Delete